KEPAHIANG – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah tujuh siswa Sekolah Dasar Negeri 18 Kepahiang, Desa Taba Tebelet, Kabupaten Kepahiang, diduga mengalami keracunan makanan usai menyantap menu yang dibagikan di sekolah mereka, Kamis pagi.
Insiden tersebut memicu kepanikan di lingkungan sekolah setelah sejumlah siswa secara bersamaan mengeluhkan kondisi kesehatan yang memburuk hanya beberapa saat setelah mengonsumsi paket makanan MBG.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, menu yang disajikan saat itu terdiri dari nugget dan olahan telur. Tidak lama setelah makanan dikonsumsi, para siswa mulai merasakan gejala serupa, mulai dari pusing, mual, nyeri perut hingga muntah-muntah.
Melihat kondisi para pelajar yang terus memburuk, pihak sekolah bergerak cepat dengan mengevakuasi seluruh korban ke Puskesmas Kelobak untuk mendapatkan penanganan medis.
Di fasilitas kesehatan tersebut, ketujuh siswa langsung mendapatkan perawatan intensif. Tim medis melakukan pemeriksaan awal, memasang infus, serta memberikan obat-obatan untuk mengatasi gejala yang dialami para korban.
Peristiwa ini sontak menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, mengingat program MBG merupakan program nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah. Dugaan adanya masalah pada makanan yang disajikan membuat warga meminta dilakukan investigasi menyeluruh agar penyebab kejadian dapat diketahui secara pasti.
Salah seorang keluarga korban, Yani, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, keponakannya mulai mengalami keluhan sesaat setelah menyantap makanan yang dibagikan di sekolah.
“Tadi keponakan saya makan menu MBG di sekolah. Tidak lama kemudian mengeluh pusing dan muntah-muntah, lalu dibawa ke Puskesmas Kelobak untuk mendapatkan perawatan,” ujar Yani.
Hingga sore hari, kondisi ketujuh siswa dilaporkan mulai membaik dan dalam keadaan stabil. Meski demikian, mereka masih berada dalam pengawasan tenaga kesehatan guna memastikan tidak terjadi komplikasi lanjutan.
Sementara itu, pihak terkait dikabarkan tengah melakukan penelusuran terhadap dugaan penyebab insiden tersebut. Pemeriksaan meliputi sisa makanan yang dikonsumsi para siswa, bahan baku yang digunakan, hingga proses pengolahan dan distribusi menu MBG ke sekolah.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan peserta didik serta kualitas pelaksanaan program MBG di daerah. Hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti kejadian yang membuat tujuh siswa harus mendapatkan perawatan medis setelah menyantap makanan yang disediakan melalui program tersebut. (Tim)






