Bengkulu – Kesadaran politik di kalangan mahasiswa menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kualitas demokrasi di Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi digital dan perkembangan media sosial yang semakin pesat, generasi muda dituntut tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu bersikap kritis, cerdas, dan bertanggung jawab dalam menyikapi berbagai isu politik.
Hal tersebut mengemuka dalam podcast yang diselenggarakan oleh KPU Kota Bengkulu mengusung tema “Membangun Kesadaran Politik Mahasiswa di Era Digital” dengan menghadirkan Rektor Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB), Dr. Susiyanto, M.Si., sebagai narasumber.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Susiyanto menjelaskan bahwa kesadaran politik merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter mahasiswa sebagai warga negara yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depan bangsa. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh memandang politik hanya sebatas kontestasi kekuasaan, melainkan sebagai sarana untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dan mewujudkan perubahan sosial yang positif.
Ia menilai masih banyak generasi muda yang menganggap politik sebagai sesuatu yang rumit, kotor, dan membosankan. Stigma tersebut, kata dia, muncul karena rendahnya literasi politik serta maraknya informasi yang menampilkan sisi negatif dunia politik tanpa diimbangi pemahaman yang utuh mengenai fungsi dan peran politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mahasiswa Harus Kritis dan Cerdas Berpolitik di Era Digital
Di era digital saat ini, media sosial menjadi sumber utama informasi politik bagi sebagian besar mahasiswa. Kondisi tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, akses informasi menjadi lebih mudah dan cepat. Namun di sisi lain, penyebaran hoaks, disinformasi, dan polarisasi opini juga semakin meningkat. Karena itu, mahasiswa dituntut untuk selalu melakukan verifikasi informasi, memanfaatkan sumber yang kredibel, serta mengedepankan sikap kritis sebelum menyebarkan atau mempercayai suatu informasi.
Lebih lanjut, Dr. Susiyanto menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi politik mahasiswa. Kampus tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan budaya demokrasi.
Menurutnya, berbagai kegiatan kemahasiswaan seperti organisasi mahasiswa, forum diskusi, seminar, maupun kegiatan akademik lainnya masih sangat relevan dalam membangun kepedulian politik generasi muda. Melalui aktivitas tersebut, mahasiswa dapat belajar menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis.
“Kampus harus menjadi ruang yang sehat bagi mahasiswa untuk berdialog, berdiskusi, dan menyampaikan aspirasi secara demokratis. Perbedaan pandangan politik merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi harus disikapi dengan sikap saling menghormati dan mengedepankan argumentasi yang rasional,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut juga dibahas mengenai peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Dr. Susiyanto menilai kontribusi mahasiswa dalam menjaga demokrasi dapat diwujudkan melalui berbagai cara, mulai dari meningkatkan literasi politik, mengawal kebijakan publik, aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, hingga berpartisipasi dalam proses demokrasi secara bertanggung jawab.
Ia mengingatkan bahwa sikap apatis terhadap politik justru dapat berdampak pada menurunnya kualitas demokrasi. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami bahwa setiap kebijakan publik yang dihasilkan pemerintah akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, termasuk generasi muda.
Menjelang berbagai momentum politik di Indonesia, Dr. Susiyanto mengajak generasi muda untuk membangun budaya politik yang cerdas, santun, dan inklusif. Menurutnya, perbedaan pilihan politik tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persatuan, melainkan harus menjadi bagian dari proses demokrasi yang sehat dan dewasa.
Di akhir sesi, ia menyampaikan harapannya kepada generasi muda Bengkulu agar terus meningkatkan kapasitas diri, memperluas wawasan, serta memanfaatkan teknologi digital secara bijak untuk mendukung pembangunan daerah dan kemajuan bangsa.
“Mahasiswa harus menjadi generasi yang kritis, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Dengan pemahaman politik yang baik, generasi muda akan mampu menjadi penggerak perubahan yang membawa manfaat bagi daerah, bangsa, dan negara,” pungkasnya.












