Cegah Hipertensi dan Jantung Koroner, Poltekkes Kemenkes Bengkulu Latih 20 Kader Kesehatan

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kelas Tensi (Kelompok Lansia Sadar Hipertensi).

BENGKULU — Upaya pencegahan hipertensi dan penyakit jantung koroner terus diperkuat dari tingkat masyarakat. Poltekkes Kemenkes Bengkulu melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) menyelenggarakan Kelas Tensi (Kelompok Lansia Sadar Hipertensi) di Puskesmas Lempuing, Kota Bengkulu, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti 20 kader kesehatan, terdiri atas 11 kader Nusa Indah dan sembilan kader Lempuing. Para kader dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk membantu masyarakat, khususnya kelompok lansia, melakukan pemantauan dan pengendalian tekanan darah secara rutin dan berkelanjutan.

Program ini merupakan bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi sekaligus upaya memperkuat peran kader sebagai mitra strategis tenaga kesehatan dalam pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular.

Doc. Poltekes Kemenkes 2026

Pengendalian Hipertensi Harus Berkelanjutan

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Ns. Anditha Ratnadhiyani, M.Kep., Sp.Kep.MB, menegaskan bahwa pengendalian hipertensi tidak cukup dilakukan ketika tekanan darah mengalami peningkatan. Upaya tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan melalui pemeriksaan tekanan darah, kepatuhan terhadap pengobatan, dan penerapan pola hidup sehat.

“Pengendalian hipertensi tidak hanya dilakukan ketika tekanan darah meningkat, tetapi harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pemeriksaan tekanan darah secara rutin, kepatuhan terhadap pengobatan, serta penerapan pola hidup sehat,” jelas Anditha.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan kader dalam membantu masyarakat mengenali risiko hipertensi dan penyakit jantung koroner sejak dini.

“Kader memiliki peran strategis dalam membantu masyarakat, khususnya kelompok lansia, untuk melakukan pemantauan tekanan darah serta mengenali faktor risiko penyakit jantung koroner sejak dini,” ujarnya.

Kader Dibekali Pengetahuan dan Keterampilan

Dalam Kelas Tensi, para kader mendapatkan materi mengenai hipertensi dan risiko penyakit jantung koroner. Materi meliputi faktor risiko, dampak hipertensi yang tidak terkontrol, serta pentingnya deteksi dini.

Kader juga memperoleh edukasi mengenai pola hidup sehat dan pengelolaan tekanan darah, antara lain pengaturan pola makan, pembatasan konsumsi garam, aktivitas fisik, pengelolaan stres, dan kepatuhan terhadap pengobatan.

Selain materi, kader mendapatkan pelatihan komunikasi kesehatan dan pencatatan hasil pemantauan tekanan darah. Mereka juga mengikuti praktik pengukuran tekanan darah untuk memastikan keterampilan tersebut dapat diterapkan saat memberikan pendampingan kepada masyarakat.

Pendekatan teori dan praktik dalam kegiatan ini diharapkan meningkatkan kapasitas kader sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

Doc. Poltekes Kemenkes 2026

Kader Jadi Penggerak Pencegahan Hipertensi

Kader kesehatan diharapkan menjadi penggerak dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga tekanan darah tetap terkendali. Kader dapat membantu mengingatkan warga agar melakukan pemeriksaan secara berkala, menerapkan pola hidup sehat, serta memanfaatkan layanan kesehatan apabila tekanan darah tidak terkontrol.

Kegiatan Kelas Tensi juga memperkuat kolaborasi antara Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Puskesmas Lempuing, dan kader Nusa Indah dalam mendukung upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular di masyarakat.

Dengan meningkatnya kapasitas kader, pemantauan tekanan darah di tingkat masyarakat diharapkan dapat dilakukan secara lebih optimal. Deteksi dini dan pengendalian yang dilakukan secara konsisten diharapkan turut menekan risiko komplikasi hipertensi, termasuk penyakit jantung koroner.

Doc. Poltekes Kemenkes 2026

Melalui Kelas Tensi, Poltekkes Kemenkes Bengkulu membawa pesan sederhana kepada masyarakat: kenali, pantau, dan kendalikan tekanan darah untuk mencegah komplikasi hipertensi dan menurunkan risiko penyakit jantung koroner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *