BENGKULU — Upaya mencegah penyakit tidak menular (PTM) perlu dilakukan sejak usia remaja. Pola makan yang kurang sehat, minim aktivitas fisik, konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan, hingga kebiasaan merokok merupakan sejumlah faktor risiko yang dapat memengaruhi kesehatan sejak usia muda.
Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu melaksanakan program AKRAB PTM (Aksi Kader Remaja Antisipasi Bahaya PTM) di SMA Negeri 1 Kota Bengkulu.

Program bertema “Inisiatif Remaja Menuju Deteksi Dini dan Edukasi PTM Berbasis Sekolah” itu dirancang untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali faktor risiko PTM sekaligus mendorong mereka menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah.
Sebanyak 18 siswa dan siswi mengikuti pelatihan kader remaja pada 7 Agustus 2026. Mereka mendapatkan materi tentang PTM, faktor risiko dan pencegahannya, peran kader kesehatan remaja, edukasi sebaya, hingga strategi menyampaikan kampanye kesehatan melalui media sosial.
Tak berhenti pada materi, peserta juga dilatih melakukan deteksi dini sederhana melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT), dan lingkar perut.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Ns. Mercy Nafratilova, M.Kep., Sp.Kep.An., mengatakan pelibatan remaja menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran kesehatan sejak dini.
“Kami ingin remaja tidak hanya menjadi penerima informasi tentang penyakit tidak menular, tetapi juga mampu mengenali faktor risikonya dan menyampaikan edukasi kepada teman-temannya. Pendekatan sebaya membuat pesan kesehatan lebih dekat dengan kehidupan remaja dan lebih mudah diterima,” ujar Mercy.
Kader Remaja Turun Langsung ke Teman Sebaya

Setelah mengikuti pelatihan, para kader mulai menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui kegiatan edukasi dan deteksi dini.
Pendampingan dilaksanakan pada 11 Agustus 2026 di SMA Negeri 1 Kota Bengkulu. Dalam kegiatan tersebut, kader menyampaikan edukasi mengenai PTM, faktor risiko, pencegahan, serta pentingnya membangun pola hidup sehat sejak remaja.
Para kader juga mempraktikkan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut kepada teman sebaya dengan didampingi tim pengabdian.
Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada kader. Mereka tidak hanya belajar memahami materi kesehatan, tetapi juga berlatih menyampaikan informasi dan berkomunikasi secara efektif dengan teman sebaya.
Edukasi PTM Merambah Media Sosial
Program AKRAB PTM kemudian dikembangkan melalui kampanye kesehatan berbasis digital.
Pada 20 Agustus 2026, kader remaja mendapatkan pendampingan untuk membuat konten edukasi yang sesuai dengan karakteristik dan kebiasaan remaja. Bentuknya antara lain poster digital, infografis, dan video pendek.
Konten tersebut nantinya dapat disebarluaskan melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya.
Menurut Mercy, pemanfaatan media sosial menjadi salah satu cara untuk memperluas jangkauan edukasi kesehatan di kalangan remaja.
“Media sosial dapat menjadi ruang yang efektif untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada remaja. Karena itu, kami mendorong kader untuk membuat konten yang sederhana, menarik, dan mudah dipahami sehingga pesan pencegahan PTM tidak terasa menggurui,” katanya.
Membangun Kader Kesehatan yang Berkelanjutan

Pelaksanaan AKRAB PTM mendapat dukungan dari SMA Negeri 1 Kota Bengkulu. Pihak sekolah memfasilitasi tempat kegiatan, membantu memilih siswa yang menjadi kader, serta mendukung pelaksanaan edukasi kepada teman sebaya.
Tim pengabdian berharap kader yang telah dibentuk tidak berhenti setelah program selesai. Mereka diharapkan tetap berperan sebagai penggerak kesehatan di lingkungan sekolah dengan menyebarluaskan informasi tentang perilaku hidup sehat, pencegahan PTM, dan pentingnya deteksi dini faktor risiko kesehatan.
“Harapannya, kader yang sudah dilatih dapat terus bergerak di sekolah. Mereka bisa menjadi penghubung antara informasi kesehatan dan teman sebaya, sekaligus mengajak lingkungan sekolah untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat,” ujar Mercy.
Melalui AKRAB PTM, pencegahan penyakit tidak menular diarahkan untuk tumbuh dari lingkungan sekolah dengan menempatkan remaja sebagai bagian dari solusi.
Program tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat upaya promotif dan preventif kesehatan melalui pemberdayaan remaja.
Pesannya sederhana: kenali risikonya, lakukan deteksi dini, dan mulai hidup sehat sejak remaja.












