Tekan Risiko Komplikasi Diabetes, Dosen Poltekkes Kemenkes Bengkulu Perkuat Peran Kader dan Teknologi Digital

Dosen POLTEKKES KEMENKES Jurusan Keperawatan, pengabdian kepada masyarakat

BENGKULU — Upaya pengendalian Diabetes Melitus di tingkat masyarakat terus diperkuat melalui pemberdayaan kader kesehatan dan pemanfaatan teknologi digital. Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pemberdayaan Kader dan Pemanfaatan Media Sosial dalam Pengendalian Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Melitus di Kelurahan Nusa Indah Kota Bengkulu Tahun 2026.”

Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap di wilayah kerja Puskesmas Nusa Indah, Kota Bengkulu, mulai 1 Juli, dilanjutkan pelatihan pada 14 Juli, dan pendampingan kader pada 1 Agustus 2026.

Program tersebut dilatarbelakangi masih tingginya beban Diabetes Melitus sebagai salah satu persoalan kesehatan masyarakat. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), pada 2019 terdapat sekitar 463 juta orang yang hidup dengan Diabetes Melitus di dunia. Jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat hingga mencapai sekitar 700 juta orang pada 2045.

Kondisi itu menunjukkan pentingnya pengendalian Diabetes Melitus secara berkelanjutan, tidak hanya melalui layanan kesehatan, tetapi juga dengan memperkuat peran masyarakat dan kader sebagai ujung tombak pendampingan.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Ns. Hermansyah, M.Kep., mengatakan kegiatan tersebut merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Melalui kegiatan ini, dosen tidak hanya menjalankan peran sebagai pendidik dan peneliti, tetapi juga turut berperan dalam meningkatkan kemampuan masyarakat melalui edukasi, pelatihan, dan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Hermansyah.

Menurutnya, pengendalian kadar gula darah membutuhkan keterlibatan penderita, keluarga, kader, dan tenaga kesehatan. Karena itu, kader diberikan pembekalan mengenai pola makan, aktivitas fisik, kepatuhan terhadap pengobatan, pemantauan kadar gula darah, serta terapi komplementer yang sesuai.

“Pemanfaatan media sosial, khususnya WhatsApp, diharapkan dapat membantu kader memberikan pengingat dan pendampingan kepada penderita Diabetes Melitus secara lebih mudah dan berkelanjutan,” katanya.

Kader Dibekali Pengetahuan dan Keterampilan

Rangkaian kegiatan diawali pada 1 Juli 2026 melalui sosialisasi mengenai Diabetes Melitus di Aula Puskesmas Nusa Indah. Kegiatan melibatkan kader kesehatan, tenaga kesehatan, dan pihak terkait dalam program penyakit tidak menular.

Materi yang diberikan mencakup pengertian Diabetes Melitus, komplikasi, pencegahan, serta strategi pengendalian kadar gula darah. Kader juga mendapatkan edukasi mengenai aktivitas fisik, gizi dan diet, termasuk konsep piring makan serta prinsip diet 3J, yakni jumlah, jenis, dan jadwal.

Selain itu, tim memberikan pembekalan mengenai terapi komplementer sebagai bagian dari pendekatan pendukung dalam pengelolaan Diabetes Melitus.

Tahap berikutnya dilaksanakan pada 14 Juli 2026 melalui pelatihan pemanfaatan media sosial sebagai sarana pengingat bagi penderita Diabetes Melitus.

Dalam pelatihan tersebut, kader diperkenalkan dengan penggunaan reminder chat WhatsApp untuk mengingatkan pasien mengenai pemeriksaan kadar gula darah, kepatuhan mengonsumsi obat, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, serta jadwal kunjungan ke puskesmas.

Kader juga mendapatkan pelatihan mengenai teknik pengukuran kadar gula darah, edukasi penggunaan Obat Hipoglikemik Oral (OHO), serta panduan penyuntikan insulin sesuai edukasi dan pendampingan tenaga kesehatan.

Pemanfaatan WhatsApp diarahkan untuk memperluas fungsi kader. Kader tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga berperan sebagai penghubung antara tenaga kesehatan dengan penderita dan keluarga.

Melalui komunikasi digital tersebut, kader diharapkan mampu memberikan edukasi dan pengingat secara lebih teratur sehingga pendampingan pasien tidak berhenti pada saat kegiatan tatap muka.

Pendampingan Perkuat Peran Kader

Komitmen pemberdayaan kemudian diperkuat melalui pendampingan kader pada 1 Agustus 2026 di wilayah kerja Puskesmas Nusa Indah.

Pada tahap ini, kader mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung materi yang telah diberikan. Tim dosen mendampingi kader dalam demonstrasi penyusunan diet, pengukuran kadar gula darah setelah pemberian terapi komplementer, serta evaluasi penggunaan WhatsApp sebagai media pengingat pasien.

Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Bengkulu turut terlibat dalam pemeriksaan kesehatan, pencatatan hasil pemeriksaan, dan pelaksanaan demonstrasi.

Pendampingan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kader tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga memiliki keterampilan dalam menerapkannya di tengah masyarakat.

Melalui praktik tersebut, kader diharapkan semakin mampu memberikan edukasi, membantu pemantauan kadar gula darah, serta mendampingi penderita Diabetes Melitus dalam menerapkan pola hidup sehat dan mengikuti pengobatan secara teratur.

Tim PkM menilai kader memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara puskesmas dan masyarakat. Peran tersebut semakin penting dalam pengendalian penyakit kronis seperti Diabetes Melitus yang membutuhkan pemantauan dan pendampingan dalam jangka panjang.

Libatkan Dosen dan Mahasiswa

Kegiatan PkM ini dilaksanakan oleh tim dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu yang terdiri atas Ns. Kheli Fitria Annuril, M.Kep., Sp.Mat., Ns. Mercy Nafratilova, M.Kep., Sp.Kep.An., Ns. Dwi Wulandari, S.Kep., MAN., dan Ayu Pravita Sari, M.Gizi.

Program tersebut juga melibatkan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Bengkulu, kader kesehatan, serta tenaga kesehatan Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun model pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan edukasi kesehatan, peningkatan keterampilan kader, pemanfaatan teknologi komunikasi, dan pendampingan secara berkelanjutan.

Diharapkan Berlanjut

Pihak Puskesmas Kota Bengkulu menyambut positif kegiatan yang dilaksanakan Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu tersebut. Kolaborasi perguruan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan dinilai dapat memperkuat edukasi serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengendalian penyakit.

“Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu telah menjadi mitra yang sangat berperan, tidak hanya dalam mendukung praktik pembelajaran mahasiswa, tetapi juga melalui berbagai kegiatan pengabdian yang berdampak langsung. Edukasi yang diberikan oleh para dosen sangat membantu kami dalam meningkatkan wawasan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan,” ujar perwakilan Puskesmas Kota Bengkulu.

Melalui rangkaian sosialisasi, pelatihan, praktik, dan pendampingan, program ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas kader dalam mendukung pengendalian Diabetes Melitus di Kelurahan Nusa Indah.

Pemanfaatan WhatsApp juga diharapkan menjadi solusi sederhana dan mudah diterapkan untuk memperkuat komunikasi antara kader, penderita, dan keluarga, terutama dalam mengingatkan pemeriksaan kadar gula darah, kepatuhan pengobatan, pola makan, aktivitas fisik, serta kunjungan ke fasilitas kesehatan.

Ke depan, pemberdayaan kader diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya pengendalian penyakit tidak menular berbasis masyarakat.

Kolaborasi antara Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Puskesmas Nusa Indah, kader kesehatan, dan masyarakat menjadi fondasi penting untuk membangun sistem edukasi, pemantauan, dan pendampingan penderita Diabetes Melitus yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *