BENGKULU — Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Muhammadiyah (UM Bengkulu) berada di kawasan Hutan Lindung Bukit Daun Register V Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu. Kawasan tersebut mendapat kepercayaan menjadi bagian dari pelaksanaan Program Forest and Other Land Use (FOLU) yang didukung pendanaan dari Norwegia melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi KHDTK UM Bengkulu dengan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Di Bengkulu, implementasi program mencakup rehabilitasi lahan seluas 80 hektare dengan melibatkan 56 anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) di sekitar kawasan.
Direktur KHDTK UM Bengkulu, Prof. Dr. Drs. Achmad Aminudin, M.Si., mengatakan keterlibatan KHDTK dalam program tersebut menjadi kesempatan penting untuk memperkuat fungsi kawasan hutan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Program ini tidak hanya berbicara tentang penanaman pohon, tetapi juga bagaimana masyarakat memiliki kapasitas untuk mengelola kawasan secara berkelanjutan. Karena itu, rehabilitasi lahan harus berjalan beriringan dengan penguatan kelembagaan dan peningkatan kemampuan kelompok tani hutan,” ujar aminudin.
Dalam pelaksanaannya, sebanyak 12.500 batang bibit tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) akan ditanam di lokasi program. Jenis tanaman yang dipilih antara lain aren, petai, jengkol, mangga, jeruk kalamansi, serta sejumlah tanaman produktif lainnya.
Pemilihan tanaman tersebut mempertimbangkan aspek ekologis dan ekonomi. Selain berperan dalam mendukung penyerapan karbon dan pemulihan tutupan lahan, tanaman MPTS dapat menghasilkan buah maupun produk lain yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Achmad, pendekatan tersebut penting agar kegiatan rehabilitasi tidak berhenti pada aktivitas menanam, tetapi berlanjut menjadi pengelolaan kawasan yang memberikan manfaat dalam jangka panjang.
“Kami ingin kegiatan ini memberikan dampak ekologis sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Tanaman yang dikembangkan harus mampu mendukung konservasi, tetapi pada saat yang sama dapat menjadi sumber manfaat bagi petani hutan,” katanya.
Program FOLU di kawasan KHDTK UM Bengkulu dirancang berlangsung selama tiga tahun. Tahun pertama difokuskan pada penanaman, tahun kedua diarahkan pada pemeliharaan, sedangkan tahun ketiga dilakukan uji petik untuk mengukur tingkat keberhasilan kegiatan.
Selain kegiatan fisik di lapangan, program juga memberikan perhatian pada pelatihan, pendampingan, penguatan kelembagaan, serta monitoring dan evaluasi. Setiap tahapan akan dilaporkan sebagai bagian dari mekanisme akuntabilitas program kepada pihak terkait, termasuk BPDLH Kementerian Kehutanan RI.
Secara nasional, Program FOLU merupakan bagian dari strategi Indonesia dalam meningkatkan penyerapan emisi karbon melalui sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya. Program tersebut diarahkan untuk mendukung target penyerapan hingga 2,8 miliar ton CO₂e pada 2030.
Pelaksanaan program tidak hanya berlangsung di Bengkulu. Sejumlah daerah lain yang menjadi lokasi kegiatan antara lain Tapanuli Selatan, Deli Serdang, Lampung Barat, Lampung Tengah, Lebak, Banyumas, dan Gunungkidul.
Peluncuran program secara nasional dijadwalkan berlangsung di Banyumas pada 23 September 2026. Momentum tersebut menjadi penanda dimulainya implementasi program di sejumlah wilayah sekaligus memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam rehabilitasi lahan dan pengelolaan lingkungan.
Bagi KHDTK UM Bengkulu, program ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kepentingan konservasi dengan pemberdayaan masyarakat. Dengan dukungan perguruan tinggi, organisasi masyarakat, pemerintah, dan kelompok tani hutan, rehabilitasi kawasan diharapkan tidak sekadar memulihkan lahan, tetapi juga membangun fondasi pengelolaan hutan yang berkelanjutan.












