Merawat Alam, Membangun Masa Depan: Kolaborasi KHDTK UM Bengkulu dan The Lawu Group

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu) menjajaki peluang kerja sama dengan Founder The Lawu Group

BENGKULU — Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu) menjajaki peluang kerja sama dengan Founder The Lawu Group, Parmin Sastro Wijono, untuk mengembangkan potensi ekowisata berbasis konservasi, pendidikan, dan pemberdayaaan masyarakat.

Sekretaris Eksekutif KHDTK UM Bengkulu, Rosyidin, menyambut baik kedatangan Founder The Lawu Group sebagai langkah awal untuk membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan kawasan.

“Kedatangan Founder The Lawu Group menjadi momentum penting bagi kami untuk memperkenalkan potensi KHDTK UM Bengkulu sekaligus menjajaki bentuk kerja sama yang dapat mendukung pengembangan ekowisata berbasis konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Rosyidin.

Menurutnya, KHDTK UM Bengkulu memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan, mulai dari air terjun, wisata kopi berbasis kehutanan masyarakat, hingga kekayaan flora endemik seperti Rafflesia arnoldii.

“Kami berharap kunjungan ini dapat berlanjut pada pembahasan yang lebih konkret, sehingga potensi yang ada di KHDTK dapat dikembangkan tanpa mengabaikan fungsi utama kawasan sebagai ruang pendidikan, penelitian, dan konservasi,” katanya.

Rektor UM Bengkulu, Dr. Susiyanto, M.Si., mengatakan, kerja sama dengan The Lawu Group diharapkan tidak hanya berorientasi pada pengembangan dan hilirisasi produk, tetapi juga mencakup penelitian serta pengembangan berbasis riset yang melibatkan dosen-dosen UM Bengkulu.

“Kolaborasi ini tidak hanya sebatas hilirisasi produk, tetapi juga harus diperluas pada penelitian dan pengembangan berbasis riset. Kami ingin dosen-dosen UM Bengkulu terlibat dalam menghasilkan inovasi yang relevan dengan potensi KHDTK, pengembangan ekowisata, konservasi, serta pemberdayaan masyarakat,” ujar Dr. Susiyanto.

Parmin Sastro Wijono merupakan pengusaha yang memiliki pengalaman dalam mengembangkan destinasi wisata dan usaha pendukung pariwisata. Ia juga memiliki kedekatan dengan lingkungan Muhammadiyah karena pernah menempuh pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Latar belakang tersebut menjadi salah satu penghubung dalam penjajakan kolaborasi dengan perguruan tinggi Muhammadiyah, termasuk UM Bengkulu.

Dalam penjajakan tersebut, turut hadir dr. Galih, tim pengembang Madu Herbal yang merupakan bagian dari Lawu Group. Ia menyampaikan bahwa pengembangan potensi kawasan dapat diarahkan pada kolaborasi yang menghubungkan sumber daya alam, inovasi produk, dan kekuatan riset perguruan tinggi.

“Kami melihat peluang kolaborasi yang cukup luas, bukan hanya dalam pengembangan atau hilirisasi produk madu herbal, tetapi juga dalam penelitian, pengujian, inovasi, dan pengembangan produk bersama. Keterlibatan dosen-dosen UM Bengkulu akan menjadi bagian penting agar setiap produk dan program yang dikembangkan memiliki dasar riset yang kuat,” kata dr. Galih.

Kunjungan tersebut menjadi langkah awal untuk mengeksplorasi potensi kawasan KHDTK UM Bengkulu sebagai destinasi ekowisata terpadu yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menghadirkan pengalaman edukasi lingkungan, penguatan ekonomi masyarakat, serta pelestarian kekayaan hayati lokal.

Sejumlah potensi yang menjadi perhatian meliputi pengembangan destinasi air terjun, wisata kopi berbasis kehutanan masyarakat, serta penguatan daya tarik wisata flora endemik, khususnya Rafflesia arnoldii yang menjadi salah satu kekayaan alam unggulan Bengkulu.

Pengembangan potensi tersebut diharapkan dapat membangun model wisata yang mengintegrasikan konservasi hutan dengan aktivitas ekonomi produktif masyarakat. Dengan pendekatan yang tepat, kawasan KHDTK tidak hanya berfungsi sebagai ruang pendidikan dan penelitian, tetapi juga dapat berkembang menjadi destinasi wisata alam yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

Pengalaman The Lawu Group dalam mengembangkan beragam destinasi wisata, kuliner, dan usaha pendukung pariwisata menjadi salah satu pertimbangan dalam penjajakan kerja sama ini. Kelompok usaha tersebut dikenal mengembangkan sejumlah destinasi di kawasan Karanganyar dan sekitarnya, antara lain The Lawu Park, Wonder Park Tawangmangu, Sakura Hills, dan Kemuning Sky Hills.

Pengalaman tersebut membuka peluang pertukaran gagasan mengenai pengelolaan destinasi, pengembangan daya tarik wisata, serta pembentukan ekosistem usaha yang melibatkan masyarakat setempat.

Mengembangkan Wisata Tanpa Mengabaikan Konservasi

Kawasan KHDTK UM Bengkulu memiliki potensi untuk dikembangkan melalui konsep eco-edu tourism, yakni wisata yang memadukan pengalaman alam, pendidikan lingkungan, dan prinsip keberlanjutan. Konsep ini memungkinkan pengunjung menikmati keindahan kawasan hutan sekaligus memahami pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan mendukung kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya hutan.

Salah satu peluang pengembangan terletak pada wisata kopi berbasis kehutanan masyarakat. Potensi kebun kopi dapat diolah menjadi pengalaman wisata yang lebih menyeluruh, mulai dari pengenalan tanaman, proses budidaya, pemanenan, pengolahan pascapanen, hingga penyajian kopi lokal. Pendekatan ini berpeluang meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperkuat identitas kopi Bengkulu sebagai produk unggulan daerah.

Di sisi lain, potensi air terjun dan kekayaan flora endemik dapat dikembangkan melalui jalur interpretasi alam, edukasi keanekaragaman hayati, serta paket kunjungan berbasis penelitian dan pembelajaran. Khusus untuk Rafflesia arnoldii, pengembangan wisata perlu mengutamakan perlindungan habitat, pengaturan kunjungan, dan pendampingan oleh tenaga yang memahami karakteristik tumbuhan tersebut.

Prinsip konservasi menjadi landasan penting agar pengembangan pariwisata tidak mengurangi fungsi ekologis kawasan hutan. Penentuan lokasi, daya dukung pengunjung, sarana pendukung, serta bentuk kegiatan wisata perlu disesuaikan dengan ketentuan pengelolaan kawasan dan hasil kajian lingkungan.

Membuka Peluang Ekonomi bagi Masyarakat

Penjajakan kerja sama ini juga membuka ruang untuk membangun pola kemitraan yang melibatkan perguruan tinggi, pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat sekitar kawasan. Melalui kolaborasi tersebut, pengembangan ekowisata diharapkan tidak berhenti pada pembangunan destinasi, tetapi berlanjut pada penciptaan peluang usaha dan peningkatan kapasitas masyarakat.

Masyarakat dapat mengambil peran dalam penyediaan jasa pemandu lokal, pengelolaan homestay, penyediaan kuliner, pengembangan produk kopi, hingga pemasaran hasil usaha berbasis potensi setempat. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari aktivitas wisata dapat dirasakan secara lebih luas.

Bagi UM Bengkulu, pengembangan ekowisata juga berpotensi memperkuat fungsi KHDTK sebagai ruang pembelajaran lapangan bagi mahasiswa dan peneliti. Kawasan ini dapat menjadi tempat untuk mengembangkan kajian kehutanan, biodiversitas, kewirausahaan, pengelolaan pariwisata berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat.

Selain itu, kolaborasi dengan tim pengembang Madu Herbal dari Lawu Group dapat diarahkan pada penguatan riset dosen-dosen UM Bengkulu, mulai dari kajian bahan baku, kualitas dan keamanan produk, inovasi formulasi, pengemasan, hingga strategi hilirisasi dan pemasaran. Pendekatan berbasis riset tersebut diharapkan mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah, daya saing, dan manfaat bagi masyarakat.

Penjajakan bersama Founder The Lawu Group diharapkan menjadi pintu masuk bagi penyusunan rencana pengembangan yang terukur, mulai dari pemetaan potensi, kajian kelayakan, penelitian bersama, perencanaan model bisnis, hingga penentuan bentuk kerja sama yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dengan memadukan potensi alam, pengetahuan akademik, pengalaman pengelolaan wisata, kekuatan riset dosen, dan partisipasi masyarakat, KHDTK UM Bengkulu memiliki peluang untuk tumbuh sebagai destinasi ekowisata yang berkarakter: menjaga hutan, menghidupkan ekonomi masyarakat, mendorong inovasi berbasis riset, dan menghadirkan pengalaman belajar dari alam.

Menutup penjajakan tersebut, Direktur KHDTK UM Bengkulu menegaskan bahwa pengembangan kawasan harus tetap menempatkan konservasi sebagai pijakan utama.

“KHDTK UM Bengkulu bukan sekadar kawasan yang memiliki potensi wisata, melainkan ruang pendidikan, penelitian, dan konservasi yang harus dijaga bersama. Karena itu, setiap bentuk kerja sama akan kami arahkan agar mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat tanpa mengurangi fungsi ekologis kawasan. Kami ingin setiap langkah pengembangan menjadi jembatan yang mempertemukan kelestarian alam, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *