MUSI BANYUASIN – Gambir yang selama ini dikenal sebagai komoditas pertanian mentah kini mulai dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Melalui inovasi hilirisasi, Tim Agracantika meluncurkan Relaxing dan Refreshing Botanical Soap berbahan ekstrak gambir (Uncaria gambir), hasil kolaborasi dengan PT Raksasi Ruri Arimbi. Inisiatif ini diarahkan untuk memperluas peluang usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani gambir di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Selama ini, sebagian besar petani masih menjual gambir dalam bentuk bahan mentah. Pola tersebut membatasi nilai tambah yang dapat dinikmati petani karena pengolahan dan pemasaran produk akhir belum sepenuhnya mereka kuasai. Melalui pengembangan produk turunan, gambir tidak lagi sekadar dijual sebagai hasil panen, tetapi juga diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Program ini merupakan bagian dari capstone project dalam program kepemimpinan SDG Academy Indonesia. Tim Agracantika melibatkan berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, aparatur sipil negara (ASN) lintas instansi, pegawai BUMN, pengusaha, hingga aktivis pemberdayaan masyarakat.
Selain sabun botani, kolaborasi tersebut menghasilkan produk kriya berupa kain batik dengan memanfaatkan pewarna alami dari ekstrak getah gambir. Pengembangan kedua produk ini membuka peluang pemanfaatan gambir untuk sektor yang lebih luas, termasuk perawatan tubuh dan industri kreatif.
Produk Refreshing Botanical Soap dikemas dalam botol pompa berukuran 100 mililiter. Formulasinya memadukan ekstrak gambir dengan sejumlah bahan lain, seperti minyak kelapa, minyak jarak, dan propolis. Kemasan produk turut mencantumkan identitas kolaborasi bersama petani gambir Musi Banyuasin melalui tulisan “Musi Banyuasin Gambir Peasants”.
Pemilik PT Raksasi Ruri Arimbi, Ruri Arimbi, menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan dalam program tersebut merupakan bentuk komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi lokal.
“Kami berkomitmen kuat mendukung pemberdayaan petani sebagai wujud semangat SDGs, yaitu No One Left Behind,” ujarnya.
Menurutnya, pertumbuhan bisnis perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama petani sebagai pelaku utama dalam rantai produksi. Dengan demikian, pengembangan produk tidak hanya berorientasi pada pasar, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di tingkat hulu.
Ke depan, Tim Agracantika berencana memperluas pemasaran sabun botani dan kain batik berbahan gambir. Pendampingan kepada petani juga akan terus dilakukan untuk menjaga kualitas hasil panen agar sesuai dengan kebutuhan pengolahan produk.
Upaya ini diharapkan dapat memperkuat posisi gambir sebagai komoditas unggulan yang memiliki beragam potensi pemanfaatan. Lebih dari sekadar menghasilkan produk baru, hilirisasi gambir menjadi langkah untuk membuka peluang usaha, memperluas akses pasar, dan meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian bagi petani Musi Banyuasin.












