Oleh : Raditya (09.26.5915)
Menurut saya, gagasan Kuntowijoyo tentang perubahan pola kepemimpinan Islam masih sangat relevan untuk membaca tantangan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) hari ini. Diversifikasi, desentralisasi, dan proliferasi bukan sekadar konsep akademik, melainkan dapat menjadi pijakan penting bagi IMM untuk memperluas ruang pengabdian, membangun gerakan yang lebih egaliter, dan memperkuat kaderisasi di tengah perubahan zaman.
IMM menghadapi tantangan untuk terus menyesuaikan pola kepemimpinan dan gerak organisasinya dengan dinamika generasi muda. Perubahan sosial yang berlangsung cepat menuntut organisasi untuk tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga berani memperbarui cara berpikir dan strategi gerakannya. Bagi saya, pembaruan tersebut merupakan salah satu kunci agar IMM tetap relevan dan mampu melahirkan kader yang berkontribusi nyata bagi masyarakat.
Persoalan organisasi tidak selalu terletak pada berkurangnya jumlah kader. Tantangan yang lebih mendasar justru dapat muncul ketika pola pikir dan praktik organisasi tidak berkembang seiring perubahan zaman. Organisasi yang hanya mengandalkan kebiasaan lama berisiko kehilangan daya tarik, terutama bagi generasi muda yang membutuhkan ruang aktualisasi, kebebasan berpikir, dan kesempatan untuk berkontribusi secara nyata.
Karena itu, kritik terhadap IMM seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat organisasi, bukan untuk melemahkan ikatan. Kepedulian terhadap masa depan IMM menuntut keberanian untuk mengevaluasi kebiasaan, membuka ruang dialog, dan memperbarui strategi gerakan tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya.
Salah satu kerangka refleksi yang menurut saya relevan ialah pemikiran cendekiawan Muslim Kuntowijoyo mengenai tiga kecenderungan dalam kepemimpinan Islam, yakni diversifikasi, desentralisasi, dan proliferasi. Gagasan tersebut dibahas dalam buku Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, khususnya pada bagian mengenai kecenderungan baru kepemimpinan Islam. Kerangka ini juga pernah diangkat dalam tulisan tentang masa depan kepemimpinan IMM yang diterbitkan Muhammadiyah pada 3 Januari 2021.
Memperluas Makna Kepemimpinan
Diversifikasi mengajak IMM memperluas pemahaman tentang kepemimpinan. Menurut saya, kepemimpinan tidak semestinya hanya diukur melalui jabatan struktural atau keterlibatan dalam politik praktis. Kepemimpinan juga dapat hadir melalui kontribusi di bidang ilmu pengetahuan, kemanusiaan, lingkungan hidup, literasi, dan pengembangan kehidupan sosial-ekonomi.
Dengan perspektif tersebut, kader yang menghasilkan penelitian, mengembangkan gerakan literasi, memperjuangkan kelestarian lingkungan, atau mendampingi masyarakat memiliki ruang pengabdian yang sama pentingnya dengan kader yang menjalankan tugas kepemimpinan struktural.
IMM perlu membangun ekosistem yang mendorong kader mengembangkan potensi berdasarkan keahlian dan minatnya. Organisasi tidak cukup hanya melahirkan pemimpin yang terampil mengelola struktur, tetapi juga perlu menumbuhkan ilmuwan, penulis, penggerak sosial, dan inovator yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
Bagi saya, kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan siapa yang menduduki jabatan, tetapi juga siapa yang mampu menghasilkan gagasan dan perubahan. Ukuran kepemimpinan harus diperluas agar kontribusi kader tidak berhenti pada ruang-ruang formal organisasi.
Mendorong Gerakan yang Lebih Egaliter
Kecenderungan kedua, desentralisasi, berkaitan dengan distribusi kewenangan dan perluasan ruang kepemimpinan. Dalam konteks IMM, gagasan ini perlu menjadi bahan evaluasi terhadap pola organisasi yang terlalu terpusat dan kurang memberikan ruang bagi inisiatif kader di berbagai tingkatan.
Perkembangan generasi muda menuntut organisasi yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berbasis pengetahuan. Gagasan serta inovasi tidak selalu lahir dari pimpinan tertinggi. Keduanya dapat tumbuh dari komisariat, komunitas akademik, kelompok riset, maupun gerakan sosial di tingkat lokal.
Karena itu, desentralisasi perlu dimaknai sebagai upaya memperkuat kepercayaan, partisipasi, dan ruang pengambilan keputusan secara proporsional. Setiap tingkatan organisasi perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan program sesuai kebutuhan mahasiswa dan persoalan masyarakat di lingkungannya.
Pola tersebut bukan berarti menghilangkan struktur atau melemahkan koordinasi. Sebaliknya, distribusi kewenangan yang sehat dapat memperkuat organisasi karena kader memiliki kesempatan untuk mengambil inisiatif, mengembangkan kreativitas, dan mempertanggungjawabkan hasil kerjanya.
Saya meyakini bahwa IMM perlu membangun budaya organisasi yang egaliter, terbuka terhadap kritik, dan mendorong kompetisi positif dalam menghasilkan inovasi sosial. Organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang hanya patuh secara administratif, melainkan organisasi yang mampu menghidupkan partisipasi dan gagasan dari bawah.
Memperbarui Strategi Kaderisasi
Kecenderungan ketiga, proliferasi, dapat menjadi landasan untuk memperluas pemaknaan kaderisasi. Keberhasilan perkaderan tidak cukup diukur melalui jumlah anggota atau keberlanjutan kepengurusan. Lebih dari itu, keberhasilan kaderisasi harus dilihat dari kemampuan organisasi mengembangkan kapasitas kader dan memperluas kontribusinya di berbagai bidang kehidupan.
Sebagai organisasi mahasiswa yang tumbuh di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah, IMM memiliki peluang besar untuk mengembangkan kader melalui tradisi intelektual, keragaman disiplin ilmu, dan pengabdian kepada masyarakat.
Namun, potensi tersebut perlu didukung strategi kaderisasi yang terbuka dan inklusif. Organisasi perlu menyediakan ruang bagi kader untuk berpikir kritis, mengembangkan keahlian, menghasilkan karya, serta berdialog dengan berbagai perspektif keilmuan.
Ketika muncul persoalan regenerasi, evaluasi tidak seharusnya hanya berfokus pada minat mahasiswa untuk bergabung. IMM juga perlu menilai sejauh mana organisasi mampu menyediakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan intelektual, aktualisasi diri, dan kontribusi sosial para kadernya.
Menurut saya, kaderisasi yang kuat bukan sekadar melahirkan penerus kepengurusan. Kaderisasi harus membentuk pribadi yang berintegritas, berwawasan luas, dan mampu memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Menjaga Nilai, Memperbarui Cara
Diversifikasi, desentralisasi, dan proliferasi menawarkan tiga sudut pandang yang saling berkaitan untuk membaca tantangan IMM. Diversifikasi memperluas ruang kepemimpinan, desentralisasi mendorong distribusi kewenangan dan inisiatif, sedangkan proliferasi memperkuat pertumbuhan kader serta penyebaran dampak gerakan.
Ketiganya mengarah pada kebutuhan yang sama, yaitu pembaruan organisasi melalui penguatan tradisi intelektual, keterbukaan terhadap gagasan, dan perluasan ruang pengabdian.
IMM tidak harus meninggalkan sejarahnya untuk menjadi relevan. Namun, nilai dan tradisi organisasi perlu diterjemahkan ke dalam strategi yang sesuai dengan perkembangan zaman. Sejarah dapat menjadi sumber inspirasi, sementara pemikiran kritis membantu organisasi merumuskan jawaban terhadap persoalan baru.
Pada akhirnya, kebesaran organisasi tidak hanya ditentukan oleh kekuatan struktur atau jumlah kader, tetapi juga oleh kemampuannya menghasilkan ilmu pengetahuan, membangun kepemimpinan yang beragam, dan menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.
Kritik yang konstruktif menjadi bagian penting dari proses tersebut. Bagi saya, mencintai organisasi bukan berarti menutup mata terhadap kekurangannya, melainkan berani melakukan evaluasi demi menjaga keberlanjutan perjuangan.
IMM perlu terus merawat nilai, memperbarui cara, dan memperluas kontribusi agar tetap menjadi ruang pembentukan intelektual Muslim yang mampu menjawab tantangan zaman
Penulis merupakan Kader IMM Komisariat FISIP UM Bengkulu












