Jika PTN Gratis, Apa yang Harus Dijual PTMA

Dr. Kasmiruddin, M.Si. Wakil Rektor Bidang Akademik, Penelitian, Pengabdian dan Publikasi Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Saat biaya kuliah bukan lagi keunggulan, kualitas pendidikan, karakter, dan kesiapan menghadapi masa depan menjadi penentu.

Oleh: Dr. Kasmiruddin, M.Si.
Wakil Rektor Bidang Akademik, Penelitian, Pengabdian dan Publikasi Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Bagaimana jika suatu hari seorang calon mahasiswa bertanya kepada orang tuanya, “Mengapa saya harus membayar kuliah di perguruan tinggi swasta jika saya bisa kuliah gratis di perguruan tinggi negeri?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi perguruan tinggi swasta (PTS), khususnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA), pertanyaan tersebut menyentuh persoalan mendasar tentang masa depan pendidikan tinggi Indonesia.

Ketika biaya pendidikan menjadi pertimbangan utama, kampus tidak lagi cukup hanya menawarkan program studi, gedung perkuliahan, dan ijazah. Calon mahasiswa ingin mengetahui sesuatu yang lebih konkret: apa yang akan mereka peroleh setelah menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya untuk menempuh pendidikan tinggi?

Pertanyaan itu semakin relevan ketika pemerintah mulai menyiapkan kebijakan pendidikan tinggi gratis di perguruan tinggi negeri (PTN). Pada September 2026, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar program tersebut dipersiapkan dan dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal negara.

Bagi masyarakat, kebijakan ini patut diapresiasi. Pendidikan tinggi seharusnya tidak menjadi hak istimewa mereka yang mampu secara ekonomi. Negara memiliki tanggung jawab memperluas kesempatan belajar, terutama bagi keluarga yang selama ini kesulitan membiayai pendidikan anak-anaknya.

Namun, di balik harapan besar tersebut, ada persoalan yang perlu diperhitungkan secara saksama: bagaimana memastikan kebijakan pendidikan gratis tidak mengabaikan keberadaan PTS yang selama puluhan tahun turut memperluas akses pendidikan tinggi di Indonesia?

Persoalan ini bukan semata-mata menyangkut keberlangsungan institusi. Di banyak daerah, PTS menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan mobilitas sosial masyarakat.

Karena itu, pembicaraan tentang pendidikan tinggi gratis tidak seharusnya berhenti pada siapa yang membayar biaya kuliah. Kita juga perlu membicarakan bagaimana seluruh perguruan tinggi dapat bertahan, berkembang, dan memberikan layanan pendidikan yang bermutu.

Jangan Menolak Pendidikan Gratis, tetapi Siapkan Perubahan

PTMA tidak semestinya berdiri di barisan yang menolak pendidikan gratis. Jika negara memiliki kemampuan untuk meringankan beban biaya pendidikan masyarakat, kebijakan itu harus dipandang sebagai langkah positif.

Yang perlu diperhatikan adalah desain kebijakannya.

Jangan sampai perluasan akses bagi mahasiswa di PTN justru mempersempit kesempatan bagi mahasiswa kurang mampu yang memilih PTS. Dukungan pembiayaan pendidikan harus dirancang secara adil dengan mempertimbangkan kebutuhan mahasiswa, mutu layanan, dan keberlanjutan penyelenggara pendidikan.

Program seperti Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) merupakan salah satu instrumen untuk membantu mahasiswa yang memenuhi persyaratan. Dukungan semacam ini perlu terus diperkuat agar pilihan perguruan tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan ekonomi keluarga.

Meski demikian, PTMA tidak boleh hanya berharap pada kebijakan pemerintah. Perubahan lingkungan pendidikan menuntut setiap perguruan tinggi melakukan pembenahan dari dalam.

Kita perlu mengakui bahwa sebagian PTS masih mengandalkan strategi pemasaran yang berpusat pada potongan biaya kuliah, pembebasan uang gedung, cicilan pembayaran, dan berbagai promosi penerimaan mahasiswa baru.

Strategi tersebut mungkin efektif untuk menarik perhatian calon mahasiswa dalam jangka pendek. Namun, apakah cukup untuk menjaga kepercayaan masyarakat dalam jangka panjang?

Ketika PTN menawarkan biaya pendidikan yang semakin terjangkau, bahkan berpotensi gratis bagi mahasiswa yang memenuhi ketentuan, persaingan harga akan semakin sulit dihadapi PTS. Karena itu, PTMA perlu meninggalkan ketergantungan pada promosi biaya dan mengarahkan perhatian pada nilai pendidikan yang dapat dibuktikan.

Beralih dari Perang Harga ke Persaingan Nilai

Ada saatnya perguruan tinggi berhenti menjadikan biaya kuliah sebagai daya tarik utama dan mulai menunjukkan hasil nyata dari proses pendidikan yang ditawarkan.

Calon mahasiswa tidak semestinya hanya mengetahui berapa besar biaya yang harus dibayar. Mereka juga perlu memahami kompetensi apa yang akan dikuasai, pengalaman apa yang akan diperoleh, dan peluang apa yang dapat dibangun selama menempuh pendidikan.

Dengan kata lain, PTMA harus menawarkan lebih dari sekadar satuan kredit semester, nilai akademik, dan ijazah. Kampus harus mampu membentuk lulusan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, integritas, karakter, dan kesiapan menghadapi perubahan.

Di sinilah PTMA memiliki modal penting yang seharusnya dikembangkan secara serius: identitas keislaman, tradisi intelektual, pengabdian kepada masyarakat, dan orientasi pendidikan yang berkemajuan.

Nilai-nilai tersebut tidak boleh berhenti sebagai slogan dalam dokumen visi dan misi. Semuanya harus hadir dalam pengalaman nyata mahasiswa, mulai dari proses pembelajaran, budaya akademik, kegiatan penelitian, pengabdian masyarakat, hingga cara perguruan tinggi memperlakukan setiap orang di lingkungannya.

Al-Qur’an dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11 mengingatkan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.

Pesan tersebut menegaskan bahwa pendidikan tidak semata-mata bertujuan menghasilkan manusia yang menguasai pengetahuan. Pendidikan juga harus membentuk pribadi yang berakhlak, bertanggung jawab, dan mampu menggunakan ilmunya untuk memberikan manfaat.

Inilah kekuatan yang harus diterjemahkan PTMA menjadi keunggulan nyata. Bukan sekadar mengklaim diri berbeda karena identitas keislamannya, melainkan membuktikan bahwa nilai-nilai tersebut melahirkan lulusan yang unggul dalam kompetensi sekaligus kokoh dalam integritas.

Mahasiswa Tidak Hanya Memilih Kampus, tetapi Masa Depannya

Perubahan perilaku calon mahasiswa juga tidak boleh diabaikan.

Generasi yang memasuki perguruan tinggi saat ini tumbuh dalam lingkungan digital. Mereka terbiasa mengakses informasi dengan cepat, membandingkan berbagai pilihan, dan mencari pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Mereka tidak lagi cukup diyakinkan oleh reputasi kampus atau kemegahan bangunan. Mereka ingin mengetahui apakah dosen memiliki kompetensi yang relevan, apakah pembelajaran sesuai dengan perkembangan zaman, dan apakah kampus memberikan kesempatan untuk membangun pengalaman profesional sebelum lulus.

Pertanyaan yang muncul semakin praktis: apakah mahasiswa memperoleh kesempatan magang? Apakah mereka dapat membangun portofolio? Apakah kampus memiliki hubungan dengan dunia usaha dan industri? Apakah mereka dibekali kemampuan menggunakan kecerdasan buatan (AI) secara bertanggung jawab?

Pertanyaan tersebut bukan tanda bahwa generasi muda hanya berorientasi pada pekerjaan. Sebaliknya, hal itu menunjukkan bahwa mereka semakin menyadari pentingnya hubungan antara pendidikan dan kehidupan setelah kelulusan.

Dunia kerja terus berubah. Perkembangan AI, otomatisasi, dan teknologi digital menggeser kebutuhan kompetensi di berbagai sektor. Pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah harus disertai kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, dan memecahkan masalah.

Perguruan tinggi yang tidak mampu mengikuti perubahan ini berisiko kehilangan relevansi. Bahkan, biaya kuliah yang murah tidak akan cukup untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat apabila lulusan tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan.

Karena itu, ukuran keberhasilan PTMA tidak boleh berhenti pada jumlah mahasiswa baru atau banyaknya program studi. Keberhasilan harus terlihat dari mutu proses pembelajaran, kompetensi lulusan, integritas akademik, kontribusi terhadap masyarakat, dan kemampuan alumni berkembang dalam dunia profesional maupun kewirausahaan.

Lima Agenda Strategis PTMA 2026–2030

Untuk menghadapi perubahan tersebut, setidaknya ada lima agenda yang perlu menjadi perhatian PTMA dalam periode 2026–2030.

Pertama, membangun diferensiasi program studi.

Tidak semua perguruan tinggi harus menawarkan program studi yang sama dengan pendekatan yang seragam. Setiap PTMA perlu mengenali potensi daerah, kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan, dan peluang dunia kerja.

Perguruan tinggi yang berada di wilayah dengan potensi pertanian, perkebunan, kelautan, kehutanan, pariwisata, atau ekonomi kreatif, misalnya, dapat mengembangkan keunggulan akademik yang berhubungan dengan potensi tersebut.

Diferensiasi bukan berarti membatasi wawasan mahasiswa pada kebutuhan lokal. Justru, kekuatan lokal dapat menjadi pintu masuk untuk membangun daya saing nasional dan internasional.

Kedua, menjadikan literasi AI sebagai kompetensi lintas disiplin.

AI tidak cukup diperkenalkan sebagai satu mata kuliah tambahan. Mahasiswa dari berbagai bidang perlu memahami cara memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan produktivitas, menganalisis informasi, dan menghasilkan karya.

Namun, kemampuan menggunakan AI harus berjalan beriringan dengan etika, integritas akademik, perlindungan data, dan kecakapan memverifikasi informasi.

AI harus menjadi alat bantu untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan alasan untuk berhenti berpikir. Kampus harus memastikan bahwa mahasiswa tetap mampu menilai kebenaran, mempertanggungjawabkan keputusan, dan menghasilkan gagasan secara mandiri.

Ketiga, menjadikan karakter sebagai keunggulan kompetitif.

Ketika teknologi semakin mampu menghasilkan tulisan, gambar, kode, dan analisis, kualitas manusia tidak dapat hanya diukur dari kemampuannya menghasilkan pekerjaan dengan cepat.

Integritas, empati, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kebijaksanaan justru semakin penting.

PTMA memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa pendidikan karakter tidak berhenti pada mata kuliah atau kegiatan seremonial. Nilai-nilai tersebut harus hidup dalam budaya akademik, keteladanan dosen, tata kelola kampus, dan perilaku seluruh sivitas akademika.

Karakter yang kuat bukan pengganti kompetensi. Keduanya harus tumbuh bersama.

Keempat, memastikan lulusan memiliki daya saing dan kesiapan kerja.

Perguruan tinggi perlu memperkuat hubungan dengan dunia usaha, industri, pemerintah, dan masyarakat. Mahasiswa harus memperoleh kesempatan belajar melalui proyek nyata, magang, penelitian terapan, sertifikasi kompetensi, dan kegiatan kewirausahaan.

Portofolio karya, kemampuan komunikasi, pengalaman kerja, serta kemampuan menyelesaikan persoalan nyata perlu menjadi bagian dari proses pendidikan.

Ukuran keberhasilan bukan semata-mata seberapa cepat lulusan memperoleh pekerjaan, tetapi juga seberapa baik mereka mampu beradaptasi, menciptakan peluang, membangun usaha, dan memberikan kontribusi sesuai bidang keahliannya.

Kelima, membangun sumber pembiayaan yang lebih beragam.

Keberlanjutan PTMA tidak seharusnya hanya bergantung pada uang kuliah mahasiswa.

Perguruan tinggi perlu mengembangkan wakaf pendidikan, dana abadi, filantropi, kemitraan industri, penelitian, hilirisasi hasil riset, pendidikan profesi, program internasional, dan pembelajaran sepanjang hayat.

Pengembangan sumber pendapatan tersebut harus disertai tata kelola yang transparan, akuntabel, dan profesional. Tujuannya bukan mengomersialkan pendidikan, melainkan memperkuat kemampuan institusi untuk menyediakan pendidikan bermutu dan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat.

Semakin beragam sumber pembiayaan yang sehat, semakin besar pula ruang bagi PTMA untuk mengembangkan inovasi dan membantu mahasiswa yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

Jangan Menjual Gedung, Jual Pengalaman dan Kepercayaan

Lima agenda tersebut membutuhkan perubahan cara pandang dalam mengelola perguruan tinggi.

Kampus tidak cukup mempromosikan gedung megah, fasilitas modern, atau banyaknya program studi. Semua itu penting, tetapi hanya menjadi sarana. Masyarakat pada akhirnya akan menilai apakah fasilitas dan program tersebut benar-benar menghasilkan pengalaman pendidikan yang bermutu.

Dosen harus terus memperbarui kompetensi dan metode pembelajaran. Kurikulum perlu disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Layanan akademik harus semakin mudah diakses. Penelitian perlu memberikan kontribusi nyata, sementara pengabdian kepada masyarakat harus menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi warga.

Yang tidak kalah penting adalah kepercayaan. Perguruan tinggi harus terbuka mengenai mutu pendidikan, capaian lulusan, pengelolaan institusi, dan penggunaan biaya pendidikan.

Kepercayaan tidak dibangun melalui iklan semata. Kepercayaan tumbuh ketika janji kampus sesuai dengan pengalaman mahasiswa dan hasil yang dirasakan setelah mereka lulus.

Dalam konteks ini, PTMA harus berani mengevaluasi dirinya sendiri. Jika ada program studi yang belum relevan, lakukan pembenahan. Jika proses pembelajaran belum memadai, tingkatkan kualitasnya. Jika hubungan dengan dunia kerja masih lemah, bangun kemitraan yang lebih bermakna.

Perubahan tidak selalu mudah, tetapi mempertahankan cara lama di tengah perubahan besar justru membawa risiko yang lebih besar.

Masa Depan Tidak Bisa Diberikan Secara Gratis

Jika PTN kelak menyediakan pendidikan tanpa biaya kuliah bagi mahasiswa yang memenuhi ketentuan, apa yang harus ditawarkan PTMA?

Jawabannya bukan diskon yang semakin besar. Bukan pula sekadar bangunan yang semakin megah.

PTMA harus menawarkan pendidikan yang membuat mahasiswa merasa bahwa pilihannya memiliki alasan kuat. Mereka memilih bukan karena tidak memiliki alternatif, melainkan karena menemukan lingkungan belajar yang sesuai dengan cita-cita, nilai, dan kebutuhan masa depannya.

Pendidikan gratis dapat mengurangi beban biaya. Namun, pendidikan yang bermutu tetap membutuhkan dosen yang kompeten, proses pembelajaran yang baik, sarana yang memadai, dan tata kelola yang bertanggung jawab.

Lebih dari itu, tidak ada perguruan tinggi yang dapat menjanjikan masa depan tanpa usaha. Kampus hanya dapat menyediakan lingkungan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kesempatan. Mahasiswa harus mengolah semua itu menjadi kemampuan untuk menjalani kehidupan dan memberikan manfaat bagi sesama.

Karena itu, tantangan terbesar PTMA bukanlah ketika PTN menjadi gratis. Tantangan sesungguhnya muncul apabila dunia berubah, sementara perguruan tinggi memilih bertahan dengan cara-cara lama.

Kita perlu mengubah pertanyaan dari bagaimana membuat mahasiswa tetap bersedia membayar biaya kuliah menjadi bagaimana memastikan setiap biaya yang dikeluarkan mahasiswa sepadan dengan mutu pendidikan dan nilai yang mereka peroleh.

Pertanyaan pertama berpusat pada keberlangsungan institusi. Pertanyaan kedua menempatkan mahasiswa dan masa depannya sebagai pusat perhatian.

Di situlah PTMA perlu menentukan arah.

Pendidikan tinggi tidak boleh semata-mata menjadi transaksi antara kampus dan mahasiswa. Ia merupakan ikhtiar membangun manusia, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan memajukan peradaban.

Jika PTMA mampu membuktikan bahwa pendidikan yang diselenggarakannya melahirkan lulusan yang kompeten, berkarakter, adaptif, dan bermanfaat bagi masyarakat, biaya kuliah tidak lagi menjadi satu-satunya alasan seseorang menentukan pilihan.

Sebab, pada akhirnya, yang dicari mahasiswa bukan sekadar tempat untuk memperoleh gelar. Mereka membutuhkan tempat untuk bertumbuh, menemukan kemampuan terbaiknya, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

PTMA tidak harus menjadi yang termurah untuk tetap dipilih. PTMA harus menjadi perguruan tinggi yang mampu membuktikan nilainya.

Di tengah perubahan kebijakan dan persaingan pendidikan tinggi, inilah pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda: membangun kualitas yang dapat dirasakan, karakter yang dapat dipercaya, dan masa depan yang layak diperjuangkan.

Pimpinan PTMA tidak boleh menunggu sampai pendaftar menurun, keuangan tertekan, atau lulusan kehilangan daya saing. Mulailah sekarang: tetapkan keunggulan yang ingin dibangun, ukur mutu dengan data, dengarkan pengalaman mahasiswa dan alumni, perkuat dosen, buka kemitraan nyata, dan alihkan investasi dari sekadar promosi menuju pembelajaran yang menghasilkan.

Dalam 100 hari ke depan, setiap PTMA perlu memiliki peta jalan yang jelas: program studi mana yang akan diperkuat, kompetensi apa yang wajib dimiliki setiap lulusan, pengalaman profesional apa yang harus diperoleh mahasiswa, sumber pembiayaan apa yang akan dikembangkan, dan indikator apa yang akan diumumkan kepada publik.

Jangan biarkan mahasiswa membayar untuk janji yang belum terbukti. Pastikan setiap rupiah yang mereka keluarkan berubah menjadi kompetensi, pengalaman, karakter, jejaring, dan peluang yang nyata.

Inilah saatnya pimpinan PTMA mengambil keputusan berani. Bukan sekadar mempertahankan jumlah mahasiswa, melainkan membangun alasan kuat mengapa masyarakat harus memilih PTMA. Bukan sekadar bertahan menghadapi PTN gratis, melainkan memimpin perubahan pendidikan tinggi dengan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Masa depan PTMA tidak ditentukan oleh seberapa besar diskon yang diberikan, tetapi oleh seberapa nyata manfaat yang dihasilkan. Jika kita bergerak hari ini, PTMA tidak hanya akan bertahan dalam persaingan baru, tetapi tampil sebagai pilihan yang dipercaya, relevan, dan dibutuhkan.

PTMA tidak harus menjadi yang termurah untuk tetap dipilih. PTMA harus menjadi perguruan tinggi yang mampu membuktikan nilainya—mulai sekarang, melalui keputusan yang terukur, tindakan yang konsisten, dan keberanian untuk berubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *