BENGKULU, 21 Agustus 2026 — Pilihan kudapan sehat di Kota Bengkulu masih relatif terbatas. Di tengah dominasi kue manis dan gorengan pada lapak jajanan pasar, sekelompok mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Bengkulu mencoba menghadirkan alternatif melalui inovasi pangan yang tidak hanya bergizi, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk usaha.
Upaya tersebut diwujudkan melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Gizi Berwirausaha: Pengembangan Kudapan Sehat oleh Mahasiswa dan Alumni Gizi untuk Masyarakat Kota Bengkulu.”
Program ini melibatkan 10 mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Gizi Divisi Perekonomian, serta sejumlah mahasiswa tingkat akhir. Kegiatan diketuai Risda Yulianti, S.Gz., M.Sc., Ph.D.
Berbeda dari program kewirausahaan yang hanya berfokus pada pelatihan produksi, kegiatan ini dirancang mengikuti alur usaha secara menyeluruh. Mahasiswa diajak memulai proses dari membaca tren pasar, merancang produk, menghitung biaya produksi, melakukan uji coba penjualan dalam skala terbatas, hingga memasarkan produk melalui skema titip jual kepada pedagang makanan ringan yang telah beroperasi.
“Masalahnya bukan cuma soal resep sehat. Kalau mahasiswa tidak paham pasar, produknya bisa bergizi, tetapi tidak laku. Makanya, kami mulai dari observasi lapangan dulu, bukan dari dapur,” kata Risda.
Turun ke Lapangan Sebelum Masuk Dapur
Tahap awal program dilakukan melalui observasi pasar pada 14–15 Agustus 2026. Para mahasiswa turun langsung menemui pedagang dan konsumen untuk memetakan jenis kudapan yang paling diminati, kisaran harga yang berlaku, serta persepsi masyarakat terhadap peluang hadirnya kudapan yang lebih sehat.
Observasi tersebut menjadi pijakan tim pengabdian kepada masyarakat dalam menyusun materi pelatihan. Dengan pendekatan itu, mahasiswa tidak hanya menerima teori, tetapi belajar memahami kondisi nyata dan karakteristik pasar yang akan menjadi sasaran produk.
Bagi peserta, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru mengenai tantangan mengembangkan produk pangan sehat.
Nadila Dwi Helfani, salah seorang peserta dari HMJ Gizi Divisi Perekonomian, mengatakan observasi membuat dirinya menyadari bahwa produk sehat harus mampu menjawab lebih dari sekadar kebutuhan gizi.
“Selama observasi, kami baru sadar bahwa produk sehat itu bersaingnya bukan cuma soal kandungan gizi, tetapi juga soal harga dan kebiasaan pembeli. Itu yang membuat kami berpikir ulang soal desain produknya,” ujar Nadila.
Dari Tren Pasar hingga Perhitungan Harga Produksi

Temuan dari lapangan kemudian diterapkan dalam sesi berikutnya pada 20 Agustus 2026. Peserta mendapatkan materi dari Andi Azhar, Ph.D., dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu).
Dalam sesi tersebut, Andi memaparkan analisis tren pasar berdasarkan hasil observasi mahasiswa. Peserta juga didampingi untuk menghitung harga produksi kudapan sehat yang tengah mereka rancang.
Tahap ini menjadi bagian penting dalam membangun pola pikir kewirausahaan mahasiswa. Produk yang dikembangkan tidak hanya dituntut memiliki kandungan gizi yang baik, tetapi juga harus realistis dari sisi biaya produksi, harga jual, serta daya saing di pasar.
Produk Sehat Ditargetkan Masuk Pasar

Rangkaian program tersebut belum berakhir. Setelah memperoleh pembekalan mengenai analisis pasar dan penetapan harga, mahasiswa akan mendapatkan materi teknik pengolahan pangan dari Yunita, M.Gizi, kemudian dilanjutkan dengan materi komunikasi label produk oleh Ade Febryanti, M.Si.
Keduanya merupakan anggota tim pengabdian kepada masyarakat.
Pembekalan tersebut dipersiapkan sebagai bekal sebelum mahasiswa memasuki tahap berikutnya, yakni merancang kudapan sehat berdasarkan harga yang telah ditetapkan dan menguji produk secara langsung di pasar.
Risda berharap program tersebut tidak berhenti pada pemahaman teori maupun pengalaman praktik kewirausahaan. Lebih jauh, mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan produk nyata yang diterima masyarakat.
“Targetnya bukan cuma mahasiswa paham teori kewirausahaan, tetapi ada produk yang benar-benar dititipkan dan dibeli masyarakat. Kalau itu tercapai, berarti kita berhasil menambah pilihan jajanan sehat di pasar Bengkulu,” ujar Risda.
Program ini sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa Gizi untuk mengembangkan kompetensi di luar aspek keilmuan gizi. Mereka didorong memahami perilaku konsumen, membaca peluang pasar, menghitung biaya produksi, hingga membangun strategi pemasaran.
Dengan pendekatan tersebut, “Gizi Berwirausaha” diharapkan dapat melahirkan kudapan sehat yang tidak hanya memenuhi aspek gizi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan mampu menjadi pilihan baru bagi masyarakat Kota Bengkulu.












