BENGKULU – Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu) bersama Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memperkuat komitmen pendampingan masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK). Melalui program FOLU Net Sink 2030, sinergi tersebut diarahkan untuk memperkuat kelembagaan Kelompok Tani Hutan (KTH), meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mendorong pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi penguatan kelembagaan dan sumber daya manusia yang dilaksanakan pada Minggu (1/11/2026). Kegiatan ini melibatkan masyarakat, kelompok tani hutan, serta perangkat Desa Taba Teret dan Desa Tanjung Heran di sekitar kawasan KHDTK UM Bengkulu.
Direktur KHDTK UM Bengkulu, Prof. Dr. Ahmad Aminudin, M.Si., mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap hutan. Menurutnya, hutan tidak hanya dijaga kelestariannya, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana dan bertanggung jawab.
Ia menegaskan bahwa masyarakat dapat memperoleh manfaat dari keberadaan hutan tanpa harus merusak ekosistemnya. Bahkan, aktivitas ekonomi yang dikembangkan di kawasan hutan semestinya turut berkontribusi terhadap upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan.
“Bagaimana kita bisa mengambil manfaat dari hutan tanpa harus merusaknya. Justru, bagaimana aktivitas yang kita lakukan dapat ikut membantu menjaga kelestarian hutan. Hutan ini bukan hanya untuk kita nikmati hari ini, tetapi juga merupakan investasi bagi keberlangsungan kehidupan generasi penerus di masa depan. Karena itu, kita memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan hutan tetap lestari dan memberikan manfaat secara berkelanjutan,” ujar Prof. Amin.
Ia menambahkan, keberhasilan pengelolaan KHDTK tidak hanya diukur dari terjaganya kawasan hutan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat dapat merasakan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, masyarakat bukan sekadar penerima manfaat, melainkan menjadi bagian penting dari upaya menjaga hutan sebagai warisan kehidupan bagi generasi mendatang.
Penanaman 12.500 Bibit Pohon Produktif di Lahan 80 Hektare
Sebagai bentuk konkret pelaksanaan program FOLU Net Sink 2030, kawasan KHDTK UM Bengkulu direncanakan menjadi lokasi penanaman sebanyak 12.500 bibit pohon produktif pada lahan seluas 80 hektare. Jenis tanaman yang akan dikembangkan meliputi aren, alpukat, durian, petai, dan berbagai jenis tanaman produktif lainnya.
Program ini dilaksanakan melalui kerja sama Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, KHDTK UM Bengkulu, serta Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) melalui Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, dengan dukungan pendanaan dari kerja sama Norwegia melalui program FOLU Net Sink 2030.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan hutan berbasis masyarakat, sekaligus mendorong kontribusi sektor kehutanan terhadap penurunan emisi gas rumah kaca. Penanaman pohon produktif diharapkan tidak hanya mendukung peningkatan kualitas tutupan vegetasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi jangka panjang bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.
Melalui pengembangan tanaman produktif, masyarakat diharapkan memperoleh nilai tambah dari hasil hutan bukan kayu dan komoditas perkebunan yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Karena itu, program ini tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi juga diarahkan pada pemeliharaan tanaman, penguatan kelompok tani, pendampingan, hingga pemanfaatan hasil panen.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan terlibat aktif sebagai mitra dalam menjaga kawasan hutan sekaligus mengembangkan sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Sementara itu, perwakilan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Jihadul Mubarok, M.H., menegaskan bahwa keterlibatan Muhammadiyah dalam pengelolaan lingkungan dan kehutanan berangkat dari semangat kebermanfaatan bagi masyarakat. Prinsip khairunnas anfa’uhum linnas atau sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama menjadi landasan dalam membangun kolaborasi tersebut.
Ia memastikan bahwa kehadiran Muhammadiyah bukan untuk mengambil alih hak kelola masyarakat, melainkan memperkuat pendampingan dan membangun tata kelola yang memberikan manfaat bersama.
“Ngurusin itu bukan untuk mengambil alih, tidak, Pak. Ya tadi disampaikan oleh Prof, kita tidak dalam rangka ingin menguasai, mengambil alih, terus apa, mengalih kelola, tidak. Insyaallah kami Pimpinan Muhammadiyah tidak ada tujuan untuk ke arah sana,” tegas Jihadul.
Menurutnya, organisasi dan kelembagaan merupakan instrumen untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Karena itu, kolaborasi antara Muhammadiyah, perguruan tinggi, dan masyarakat harus menghasilkan dampak nyata, bukan sekadar membangun struktur kelembagaan.
“Prinsipnya adalah bagaimana kita memiliki suatu kebermanfaatan. Karena memang yang tujuan utamanya adalah kebermanfaatan dan keterdampakan,” ungkapnya.
Perkuat Kelembagaan dan Kapasitas Masyarakat
Kegiatan sosialisasi ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dengan materi yang berfokus pada penguatan kelembagaan, pengembangan kapasitas masyarakat, serta pengelolaan kawasan hutan secara berkelanjutan.
Agenda kegiatan terbagi dalam dua sesi utama. Sesi pertama menghadirkan Muhammad Rifandi, S.E., M.Ak., Akt., dan Prof. Dr. Ahmad Aminudin, M.Si. Sementara sesi kedua menghadirkan Deddy Kurniadi, S.E., serta Afriyanto, M.Kes., DPH.
Melalui rangkaian materi tersebut, masyarakat diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penguatan kelembagaan kelompok tani, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan peluang pengembangan ekonomi berbasis potensi kawasan hutan.
Sinergi antara Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah dan KHDTK UM Bengkulu menjadi bagian dari upaya membangun model pengelolaan hutan yang tidak mempertentangkan kepentingan konservasi dengan kesejahteraan masyarakat.
Hutan harus tetap terjaga, sementara masyarakat yang hidup dan menggantungkan penghidupannya pada kawasan tersebut juga harus memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Melalui program FOLU Net Sink 2030, UM Bengkulu bersama Muhammadiyah berharap terbangun tata kelola kehutanan yang partisipatif, memiliki kepastian hukum, serta mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Dengan demikian, upaya menjaga kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara halalan thayyiban.
Pada akhirnya, keberhasilan menjaga hutan bukan hanya tentang mempertahankan kawasan hijau hari ini, melainkan memastikan generasi mendatang tetap memiliki sumber kehidupan, lingkungan yang sehat, dan warisan alam yang lestari.












