BENGKULU — Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu) memperkuat kapasitas dosen dalam menghadapi kompetisi pendanaan riset nasional melalui Workshop Pendampingan Penyusunan Proposal Hibah Kompetitif Nasional. Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Aula Kampus IV UM Bengkulu, 29-30 september 2026.
Workshop tersebut diarahkan untuk memperkuat budaya ilmiah sekaligus meningkatkan kemampuan dosen dalam menyusun proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang kompetitif, terukur, dan berorientasi pada pemecahan persoalan nyata.
Penguatan kapasitas tersebut menjadi semakin relevan seiring dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui program Diktisaintek Berdampak. Kebijakan tersebut mendorong perguruan tinggi agar penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti pada luaran akademik, tetapi mampu menghasilkan inovasi yang memberikan dampak nyata.
Sejumlah isu strategis nasional, seperti ketahanan pangan, energi, transformasi digital, hingga kecerdasan buatan, menjadi bagian dari tantangan yang membutuhkan kontribusi perguruan tinggi melalui riset dan inovasi.
Dalam konteks tersebut, penguatan kemampuan dosen dalam menyusun proposal hibah kompetitif dipandang sebagai bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas riset sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi pembangunan.
Pimpinan UM Bengkulu menegaskan bahwa riset dan publikasi ilmiah merupakan bagian penting dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Karena itu, dosen tidak hanya dituntut menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga mampu merancang penelitian yang memiliki relevansi, kebaruan, serta potensi kebermanfaatan bagi masyarakat.
Workshop menghadirkan sejumlah narasumber dari perguruan tinggi Muhammadiyah yang memberikan pendampingan berdasarkan aspek substansi penelitian, metodologi, kesiapterapan teknologi, tata kelola anggaran, hingga strategi kolaborasi riset.
Prof. Dr. Tria Astika Endah Permatasari, S.K.M., M.KM., dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, menekankan pentingnya ketajaman arah penelitian sejak tahap awal penyusunan proposal.
“Penyusunan proposal riset yang kompetitif harus berakar dari kejelasan peta jalan (roadmap) penelitian serta ketepatan metodologi yang menjawab kebutuhan nyata di masyarakat, sehingga luaran yang dihasilkan tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga aplikatif.”
Menurutnya, roadmap penelitian menjadi fondasi penting untuk menunjukkan kesinambungan dan arah pengembangan riset. Dengan peta jalan yang jelas, penelitian diharapkan tidak berjalan secara parsial, tetapi berkembang secara sistematis dan menghasilkan luaran yang memiliki nilai tambah.
Sementara itu, Andri Pranolo, S.Kom., M.Cs., Ph.D., dari Universitas Ahmad Dahlan, memberikan penekanan pada aspek teknis penyusunan proposal, termasuk substansi penelitian, Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT), dan perencanaan anggaran.
“Aspek substansi dan pemenuhan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) menjadi kunci utama lolosnya pendanaan hibah nasional, di samping kecermatan dalam merancang Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang akuntabel dan transparan.”
Ia menekankan bahwa kualitas proposal tidak hanya ditentukan oleh gagasan penelitian, tetapi juga oleh kemampuan peneliti menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam metodologi, target luaran, indikator capaian, serta kebutuhan anggaran yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.
Perspektif berbeda disampaikan Lukman Hakim, M.A., selaku Program Manager RisetMu. Ia menyoroti pentingnya membangun ekosistem kolaborasi penelitian di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.
“Sinergi riset di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah harus terus didorong agar mampu melahirkan inovasi unggul yang berdaya saing global serta memberikan solusi transformatif bagi kemajuan bangsa.”
Kolaborasi, menurutnya, menjadi salah satu strategi untuk memperluas kapasitas riset perguruan tinggi, baik melalui pertukaran keahlian, penguatan jejaring peneliti, maupun pengembangan penelitian lintas disiplin dan institusi.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi klinik proposal dan bedah metode penelitian. Para dosen memperoleh pendampingan secara langsung untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan rancangan penelitian yang disiapkan, sekaligus memperbaiki substansi proposal agar lebih terarah dan kompetitif.
Materi pendampingan mencakup penyusunan roadmap penelitian, perumusan masalah dan metodologi, pemetaan TKT, penyusunan RAB, strategi pencapaian luaran, hingga pengembangan publikasi pada jurnal internasional bereputasi.
Bagi UM Bengkulu, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi forum peningkatan kapasitas teknis penulisan proposal. Lebih jauh, workshop menjadi bagian dari upaya membangun budaya riset yang lebih kuat dan berkelanjutan di lingkungan kampus.
Sinergi antara perguruan tinggi, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, dan kebijakan nasional di bidang riset diharapkan mampu membuka lebih banyak peluang bagi dosen UM Bengkulu untuk berkompetisi dalam skema pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan proposal yang semakin berkualitas, riset yang lebih terarah, serta kolaborasi yang semakin luas, UM Bengkulu menargetkan lahirnya lebih banyak inovasi dan invensi yang tidak berhenti sebagai luaran akademik.
Riset diharapkan dapat bergerak lebih jauh dari ruang akademik menuju penerapan nyata sehingga memberikan manfaat yang terukur bagi masyarakat sekaligus memperkuat kontribusi UM Bengkulu dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan.












