BENGKULU — Musyawarah Nasional (Munas) ke-2 Asosiasi Pusat Karier Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (APSKAR) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) diselenggarakan secara daring pada Senin (31/8/2026). Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu) dipercaya menjadi tuan rumah agenda nasional tersebut.
Munas ke-2 APSKAR diikuti oleh 44 PTMA dari berbagai wilayah di Indonesia. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kelembagaan pusat karier di lingkungan PTMA sekaligus meningkatkan sinergi antara perguruan tinggi dan dunia kerja.
Ketua Panitia Munas ke-2 APSKAR, Tri Budi Prasetyo, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti oleh 44 PTMA. Ia berharap semakin banyak PTMA yang memiliki pusat karier dan berpartisipasi aktif dalam APSKAR.
“Munas kali ini diikuti oleh 44 PTMA. Kami berharap ke depannya seluruh PTMA memiliki pusat karier dan dapat berpartisipasi dalam Munas berikutnya,” ujar Tri Budi.
Rektor UM Bengkulu, Dr. Susiyanto, M.Si., menyampaikan apresiasi kepada pengurus APSKAR yang telah memberikan kepercayaan kepada UM Bengkulu sebagai tuan rumah Munas ke-2.
Menurutnya, pusat karier memiliki posisi strategis dalam menjembatani perguruan tinggi dengan dunia usaha dan dunia kerja. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik, tetapi juga perlu membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada pengurus APSKAR yang telah menunjuk UM Bengkulu sebagai tuan rumah Munas ke-2. Saya berharap Munas ini menghasilkan gagasan dan keputusan yang dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan dunia usaha,” kata Susiyanto.
Ia menambahkan bahwa lulusan PTMA diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kompetensi yang memungkinkan mereka memahami dan beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kita berharap lulusan kita dapat segera terserap di dunia kerja. Oleh karena itu, kita perlu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi untuk memahami kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum APSKAR PTMA, Sukma Lesmana, Ph.D., menilai Munas ke-2 memiliki arti penting bagi penguatan organisasi dan kelembagaan pusat karier di lingkungan PTMA.
“Munas kedua menjadi penting karena kepengurusan kami meletakkan dasar bagi penguatan kelembagaan pusat karier,” ujar Sukma.
Menurutnya, penguatan kelembagaan pusat karier diperlukan agar layanan pengembangan karier bagi mahasiswa dan lulusan dapat berjalan secara lebih terarah serta memiliki standar yang semakin baik.
Ketua FOSMA, Prof. Dr. Ihwan Susila, menyoroti perubahan karakter mahasiswa yang semakin dekat dengan teknologi digital. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu direspons oleh pusat karier melalui program-program yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa dan perkembangan dunia kerja.
“Generasi saat ini semakin dekat dengan teknologi digital. Sertifikasi keahlian sangat penting bagi lulusan. Mahasiswa juga perlu dilibatkan dalam menentukan program karier yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ungkap Ihwan.
Menurutnya, sertifikasi kompetensi dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan daya saing lulusan ketika memasuki dunia kerja.
Dukungan terhadap penguatan pusat karier juga disampaikan oleh Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Dikti Litbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Bambang Setiadji.
Ia menyambut baik keberadaan pusat karier di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Menurutnya, salah satu harapan orang tua ketika menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi adalah agar anak tersebut memiliki budi pekerti luhur sekaligus memperoleh pekerjaan yang baik.
“Saya sangat mengapresiasi keberadaan pusat karier. Bagaimanapun, orang tua menyekolahkan anak agar mereka memiliki budi pekerti luhur dan memperoleh pekerjaan yang baik,” kata Bambang.
Bambang juga menekankan pentingnya menumbuhkan kemandirian mahasiswa. Menurutnya, pusat karier tidak hanya perlu berorientasi pada penempatan lulusan di dunia kerja, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk memiliki jiwa mandiri dan mampu menciptakan peluang.
“Kemandirian mahasiswa perlu terus dikembangkan. APSKAR harus turut menumbuhkan jiwa kemandirian karena saat ini merupakan era kemandirian,” tegasnya.
Ketua Baru APSKAR PTMA Terpilih

Dalam Munas ke-2 APSKAR PTMA, peserta menetapkan 11 formatur yang akan melanjutkan proses musyawarah untuk menentukan ketua dan kepengurusan APSKAR periode berikutnya.
Sebelas formatur tersebut adalah:
- Abdul Kadir — Universitas Muhammadiyah Palopo;
- Hardiman SG — Universitas Muhammadiyah Jakarta;
- Karnila Ali — Universitas Muhammadiyah Metro;
- M. Arifin Rahmanto — UHAMKA;
- Moh. Indra Bangsawan — Universitas Muhammadiyah Surakarta;
- Muchromin — Universitas Muhammadiyah Gombong;
- Mutmainnah Mazuki — Universitas Muhammadiyah Bulukumba;
- Nuri Apriani — Universitas ‘Aisyiyah Bandung;
- Rosiana N.I. — Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta;
- Tri Budi Prasetyo — Universitas Muhammadiyah Cirebon; dan
- Triati Puspita Lestari — Universitas Muhammadiyah Lamongan.
Hasil musyawarah menetapkan Dr. Muhammad Arifin Rahmanto dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) sebagai Ketua Umum APSKAR PTMA periode 2026–2029 dengan masa jabatan tiga tahun.
Terpilihnya Dr. Muhammad Arifin Rahmanto sebagai ketua umum baru menandai dimulainya kepengurusan APSKAR PTMA periode 2026–2029. Kepengurusan baru tersebut diharapkan semakin memperkuat peran APSKAR dalam membangun ekosistem pengembangan karier bagi mahasiswa dan lulusan PTMA, sekaligus meningkatkan sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan dunia kerja.
Munas ke-2 APSKAR PTMA juga menjadi momentum untuk mendorong setiap PTMA memiliki pusat karier yang kuat, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menyediakan layanan karier yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan dinamika dunia kerja.












