Lawan Berpendapat, Kawan Berpikir

Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Oleh Dr. Rudi Nofindra

Mari kita sepakati satu hal sejak awal berdebat di Indonesia itu melelahkan. Bukan karena topiknya berat kita bisa berjam-jam meributkan apakah bubur ayam lebih afdal diaduk atau tidak tapi karena kita sering gagal membedakan antara isi kepala dan harga diri. Begitu argumen kita dipatahkan, yang terasa sakit bukan logika kita, melainkan ulu hati. Kita merasa sedang dikuliti secara personal, seolah-olah kritik terhadap ide kita adalah serangan fajar terhadap kehormatan garis keturunan kita. Padahal, ada satu adagium tua yang mestinya dipajang di setiap kolom komentar media sosial kita, Lawan berpendapat adalah kawan berpikir.

Uji Nyali Sebuah Ide

Bayangkan kita baru saja membeli sebuah helm baru. Cara terbaik untuk tahu apakah helm itu berkualitas bukan dengan cara mengelus-elus busanya yang empuk atau memandangi stiker hologramnya, melainkan dengan membenturkannya ke aspal. Jika helm itu retak hanya karena jatuh dari jok motor, berarti itu helm hiasan.

Ide juga begitu. Sebuah gagasan yang hanya berputar-putar di kepala sendiri akan selalu tampak sempurna. Di dalam pikiran kita, kita semua adalah Aristoteles. Tapi begitu ide itu dilempar ke meja makan, ke ruang rapat atau ke grup WhatsApp keluarga dan tiba-tiba ada yang menyambar, Lho, tapi data dari BPS nggak bilang gitu, atau Logikamu lompat, Mas, di situlah ujian sesungguhnya dimulai.

Inilah yang kita sebut sebagai dialektika, bukan sekadar retorika. Retorika itu jualan ia mencoba memukau dengan diksi yang mentereng dan intonasi yang berwibawa agar orang percaya tanpa banyak tanya. Dialektika? Ia adalah proses adu pukul intelektual. Lawan bicara yang membantah sebenarnya sedang membantu melakukan quality control.

Tanpa bantahan, ide hanyalah sebuah prasangka yang merasa benar sendiri. Lawan yang menyodorkan data baru atau menunjukkan celah logika sebenarnya sedang menambal lubang di kapal yang sedang di kemudikan. Mereka adalah partner dalam proses pencarian kebenaran. Jadi, alih-alih ingin melempar asbak ke arah mereka, seharusnya kita berterima kasih karna sudah bikin isi kepala kita nggak jadi rongsokan.

Musuh Terbesar dalam Kamar Diskusi

Masalahnya, manusia adalah makhluk yang rapuh egonya. Kita seringkali memeluk ide kita terlalu erat, sampai-sampai ide itu menjadi identitas diri. Kalau saya bilang sistem zonasi sekolah itu berantakan, lalu ada yang membantah dengan data keberhasilan di beberapa daerah, saya seringkali tidak melihat itu sebagai bantahan data, tapi sebagai pernyataan bahwa “Rudi, kamu itu bodoh.

Nah, di sinilah penyakitnya. Ketika ego sudah masuk ke ruang diskusi, logika biasanya langsung keluar lewat jendela. Kita tidak lagi fokus mencari kebenaran tapi fokus mencari kemenangan. Kita tidak lagi mendengarkan untuk memahami, tapi mendengarkan untuk mencari celah agar bisa membalas dendam secara verbal.

Memisahkan ego dari gagasan adalah skill dewa. Ini adalah kemampuan untuk melihat ide kita berdiri di depan kita sebagai objek, bukan sebagai bagian dari tubuh kita. Kalau ide itu dipukul dan jatuh, ya sudah, kita bangun lagi ide yang lebih kuat. Kita tidak ikut jatuh miskin atau kehilangan martabat karena satu argumen yang salah.

Menganggap lawan bicara sebagai kawan berpikir secara otomatis meredam ketegangan emosional. Debat yang tadinya terasa seperti perang saudara, berubah menjadi kolaborasi. Kita berdua sedang bekerja sama untuk menghancurkan ide yang lemah guna menemukan ide yang paling tangguh. Kita sedang bahu membahu menyingkirkan kabut ketidaktahuan.

Budaya Iyes Bos dan Kematian Akal Sehat

Di banyak instansi atau lingkaran pertemanan, kita sering terjebak dalam budaya asal bapak senang atau yes-man culture. Semua orang manggut-manggut. Suasananya damai, harmonis dan sangat stagnan. Tidak ada percikan, tidak ada pertumbuhan.

Jika berada di ruangan di mana semua orang setuju, segera keluar atau carilah orang baru. Sebab, di sana tidak akan pernah berkembang. Hal tersebut hanya sedang mandi di kolam narsisme yang airnya sudah mulai keruh.

Lawan berpendapat adalah alarm yang membangunkan kita dari mimpi indah kebenaran tunggal. Mereka memaksa kita untuk membaca lagi, riset lagi dan berpikir dua kali. Mereka mencegah kita menjadi diktator kecil dalam tempurung pikiran kita sendiri.

Mari Berdebat dengan Riang Gembira

Dunia ini sudah cukup penuh dengan kebencian yang dasarnya adalah sentimen personal. Mari kita sisakan sedikit ruang di mana kita bisa saling hantam argumen tapi tetap bisa ngopi bareng setelahnya. Kita butuh lebih banyak orang yang bisa bilang, Wah, argumenmu barusan bikin teori saya hancur lebur, yuk kita bahas lagi sambil makan martabak.

Menghargai lawan berpendapat bukan berarti kita harus setuju dengan mereka. Sama sekali bukan. Menghargai mereka berarti mengakui bahwa kehadiran mereka penting agar pikiran kita tidak berlumut.

Jadi, untuk siapa pun yang pernah membantah saya, menyanggah presentasi saya atau mematahkan logika saya di meja diskusi, terima kasih. Karna mereka adalah kawan berpikir terbaik yang pernah saya miliki. Tanpa cerewetnya mereka, mungkin saya masih terjebak menjadi orang sok tahu yang menyedihkan.

Mari kita lanjutkan adu mekanik ini. Sebab dalam setiap bantahan yang tajam, biasanya terselip satu butir kebenaran yang baru saja kita temukan bersama. Dan bukankah itu tujuan kita berpikir? Mencari cahaya, bukan sekadar memadamkan pelita orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *