GSDC 2026: UMB Tunjukkan Kepemimpinan Global dalam Konservasi, Karbon, dan Kemitraan Internasional

Universitas Muhammadiyah Bengkulu dalam ajang GSDC 2026

GSDC 2026 di Jakarta menjadi panggung bagi Universitas Muhammadiyah Bengkulu untuk memperkenalkan model konservasi hutan, pengelolaan karbon, kemitraan internasional, dan pemberdayaan masyarakat yang berdampak nyata bagi pencapaian SDGs.

JAKARTA – Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) menegaskan komitmennya terhadap agenda pembangunan berkelanjutan dunia melalui partisipasi aktif dalam Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 22–25 Juni 2026.

Forum internasional yang diselenggarakan oleh Times Higher Education (THE) tersebut mempertemukan lebih dari 5.000 peserta dari berbagai negara, mulai dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi nonpemerintah, sektor industri, hingga para pengambil kebijakan yang berperan dalam mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Pada forum tersebut, UMB diwakili oleh UMB Global Engagement (UGE) bersama Wakil Rektor IV, Dr. Onsardi, M.M., sebagai bagian dari partisipasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat global.

Kehadiran UMB menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan berbagai capaian institusi yang selaras dengan tujuan SDGs, terutama SDG 15 (Life on Land), SDG 13 (Climate Action), SDG 14 (Life Below Water), SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 4 (Quality Education), serta SDG 17 (Partnerships for the Goals).

KHDTK UMB, Laboratorium Alam untuk Masa Depan Berkelanjutan

Salah satu kontribusi utama yang diperkenalkan UMB dalam forum tersebut adalah pengelolaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Universitas Muhammadiyah Bengkulu seluas 1.992,69 hektare yang berada di bentang alam Bukit Barisan.

Kawasan ini menjadi habitat berbagai spesies penting, termasuk bunga Rafflesia dan Harimau Sumatra, sekaligus berfungsi sebagai kawasan konservasi yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati.

Selain menjaga ekosistem, KHDTK UMB juga memiliki nilai strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui cadangan karbon yang tersimpan di dalam kawasan hutan tersebut.

“Cadangan karbon yang terdapat di kawasan KHDTK menjadi salah satu aset lingkungan yang sangat penting. Selain mendukung upaya mitigasi perubahan iklim, keberadaannya juga berkontribusi terhadap kualitas udara yang sehat bagi masyarakat,” ujar Dr. Onsardi.

Menjaga Air, Menjaga Kehidupan

Keberadaan sumber mata air alami di kawasan KHDTK turut menjadi perhatian dalam forum internasional tersebut. Selama ini, sumber air tersebut menjadi salah satu penopang kebutuhan air bersih masyarakat yang dikelola melalui Perumda Tirta Rafflesia.

Sumber mata air yang berada di kawasan Bukit Barisan, khususnya wilayah Bukit 9, Kabupaten Bengkulu Tengah, menunjukkan bagaimana kawasan konservasi dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus manfaat sosial bagi masyarakat.

Model pengelolaan tersebut dinilai menjadi contoh nyata bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar.

Membuka Jalan Kolaborasi Global

Di bidang kemitraan internasional, UMB terus memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai institusi dunia. Hingga saat ini, UMB telah menjalin kemitraan dengan hampir 20 perguruan tinggi luar negeri dan sejumlah lembaga internasional, serta menerima mahasiswa asing yang berasal dari sembilan negara.

Partisipasi dalam GSDC 2026 diharapkan membuka peluang kolaborasi baru, khususnya dalam bidang penelitian terkait konservasi hutan, perubahan iklim, biodiversitas, ekonomi biru, dan pemberdayaan masyarakat.

Hasil Hutan Bukan Kayu di KHDTK UM Bengkulu

Staf UMB Global Engagement, Pebria Prakarsa Renta, S.IP., M.HI., mengatakan bahwa forum internasional seperti GSDC menjadi ruang strategis untuk memperluas jejaring sekaligus memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki UMB kepada komunitas global.

“GSDC menjadi ruang yang sangat penting bagi UMB untuk membangun kolaborasi lintas negara. Kami ingin menunjukkan bahwa kampus di daerah juga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs melalui pengelolaan hutan konservasi, penguatan masyarakat sekitar kawasan hutan, serta pengembangan riset yang berdampak langsung bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Pebria, kerja sama internasional tidak hanya berorientasi pada peningkatan reputasi akademik, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan, terutama melalui pengembangan komoditas unggulan seperti kopi dan madu.

Dengan dukungan jejaring global, komoditas lokal tersebut berpeluang memperoleh akses pasar yang lebih luas dan meningkatkan nilai tambah bagi petani serta kelompok usaha masyarakat.

Menyiapkan Generasi Muda Berwawasan Global

Sementara itu, staf UMB Global Engagement, Exa Reva Amaliyah, S.Hub.Intl., menilai bahwa keterlibatan dalam forum internasional juga menjadi sarana penting untuk membangun kesadaran generasi muda terhadap isu-isu global yang akan menentukan masa depan dunia.

“SDGs bukan hanya agenda pemerintah atau organisasi internasional, melainkan tanggung jawab bersama. Mahasiswa perlu memahami isu perubahan iklim, konservasi lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan kemitraan global agar mampu menjadi bagian dari solusi bagi tantangan masa depan,” kata Reva.

Ia menambahkan bahwa berbagai program internasional yang dikembangkan UMB diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa sekaligus memperkuat kapasitas mereka untuk berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal maupun global.

Tantangan dan Tanggung Jawab Bersama

Di balik berbagai capaian tersebut, UMB mengakui bahwa edukasi masyarakat masih menjadi tantangan penting dalam pengelolaan kawasan konservasi.

Diperlukan pendampingan yang berkelanjutan agar masyarakat dapat memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam, termasuk dalam pengembangan hutan produksi berbasis kopi dan madu secara berkelanjutan.

Melalui pendekatan tersebut, pelestarian lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan, tetapi juga menjadi gerakan kolektif yang melibatkan masyarakat sekitar kawasan hutan.

Menegaskan Peran Perguruan Tinggi di Panggung Dunia

Perwakilan UMB Global Engagement

Bagi Universitas Muhammadiyah Bengkulu, GSDC 2026 bukan sekadar forum akademik internasional. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang strategis untuk menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menjawab berbagai tantangan global melalui pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Keunggulan KHDTK UMB sebagai kawasan konservasi dengan kekayaan biodiversitas, cadangan karbon, sumber mata air alami, serta model pemberdayaan masyarakat berbasis keberlanjutan menjadi modal penting untuk membangun kolaborasi yang lebih luas di masa depan.

Partisipasi UMB dalam GSDC 2026 sekaligus menegaskan bahwa kampus tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga aktor penting dalam mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *