METRO — Bertempat di Kampus 1 UM Metro, sebanyak 36 guru dari 33 sekolah mengikuti Training of Trainer (ToT) Fasilitator Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang diselenggarakan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kota Metro, Lampung, pada 6–9 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas guru dalam memahami sekaligus mempraktikkan pengurangan risiko bencana (PRB) dan kesiapsiagaan di satuan pendidikan. Peserta tidak hanya mendapatkan materi kebencanaan, tetapi juga dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi risiko, menyusun Prosedur kedaruratan sekolah, membangun tim siaga, merancang simulasi, menggunakan media komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), hingga menyusun rencana tindak lanjut di sekolah.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama empat hari. Pada hari pertama, peserta mengikuti registrasi, pembukaan, perkenalan, orientasi, dan pretest. Materi kemudian dilanjutkan dengan fikih bencana, sistem penanggulangan bencana di Muhammadiyah, serta pengurangan risiko bencana di satuan pendidikan.
Memasuki hari kedua, peserta mendapatkan materi kebijakan SPAB, Pilar 1, 2, dan 3, serta kajian risiko partisipatif. Peserta juga mengikuti paparan hasil kajian risiko dan pembelajaran penyusunan SOP penanggulangan bencana dan SOP satuan pendidikan.
Pada hari ketiga, pelatihan diarahkan semakin praktis. Peserta menyusun rencana aksi sekolah, memetakan tugas dan fungsi tim siaga, membuat serta memilih media KIE, merancang simulasi mandiri, melakukan praktik, mempelajari konsep sekolah darurat, dan menyusun rencana tindak lanjut.
Dorong Implementasi, Bukan Sekadar Pelatihan
Fasilitator nasional MDMC yang juga anggota Bidang Mitigasi dan Kesiapsiagaan MDMC Pusat, Agus Widianto, menekankan bahwa keberhasilan pelatihan tidak cukup diukur dari terselenggaranya kegiatan atau bertambahnya pengetahuan peserta.
Menurut dia, ukuran penting dari pelatihan adalah sejauh mana materi yang diterima dapat diterapkan di sekolah.
“Yang menjadi pembeda adalah implementasi. Pelatihan ini jangan berhenti pada pengetahuan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Target minimal 50 persen implementasi di sekolah menjadi salah satu ukuran keberhasilan dari proses yang telah dilakukan.”
Ia berharap para peserta dapat menjadi penggerak kesiapsiagaan di sekolah masing-masing serta menularkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada warga sekolah.
Diikuti Guru dari Beragam Satuan Pendidikan
Sebanyak 36 guru mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari 33 sekolah di Kota Metro , yang mencakup sekolah negeri bahkan sekolah Kristen, di antaranya TK Aisyiyah Metro, SD Aisyiyah, MI Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah, SMA dan SMK Muhammadiyah, MA Muhammadiyah, SMP Negeri 1 Metro, SMP Negeri 4 Metro, SMA Negeri 2 Metro, SD IT An-Nawawi Metro,MIN 3 Metro serta SD Kristen Metro.
Keberagaman asal sekolah tersebut menjadi modal penting dalam memperluas penerapan SPAB. Guru yang mengikuti ToT diharapkan tidak hanya memahami konsep kebencanaan secara personal, tetapi mampu menjadi fasilitator internal yang mengembangkan budaya aman dan tangguh di lingkungan sekolah.
Materi Mengarah pada Kesiapsiagaan Sekolah
Sejumlah fasilitator terlibat dalam kegiatan ini. Dari MDMC Pusat, hadir Agus Widianto dan M.S. Akhiri sebagai fasilitator nasional. Sementara fasilitator daerah MDMC Metro terdiri atas Bekti Satriadi, Rahmad Ardiansyah, Adang Misbahudin, Rifki Wahyu Lara, Saiful Dwi Saputra, Rindi Citra Andini, dan Fadilah Sicilia.
Bekti Satriadi antara lain menjadi pemateri fikih kebencanaan, sedangkan Saiful Dwi Saputra terlibat dalam materi simulasi.
Rangkaian materi disusun secara bertahap, mulai dari pemahaman dasar kebencanaan hingga penerapan di sekolah. Peserta juga mendapatkan materi kajian risiko partisipatif, penyusunan SOP, rencana aksi sekolah, tim siaga, media KIE, simulasi, sekolah darurat, dan rencana tindak lanjut.
Ketua panitia pelaksana, Satfa Alfarizi, memastikan rangkaian kegiatan berjalan dengan melibatkan peserta dalam proses pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga mengarah pada praktik dan penyusunan rencana aksi. Ia juga menegaskan pentingnya keterlibatan aktif peserta agar hasil pelatihan benar-benar dapat diterapkan di lingkungan sekolah.
“Kami berupaya agar pelatihan ini tidak berhenti di ruang kelas, tetapi benar-benar menjadi gerakan di sekolah. Harapannya, setiap peserta mampu menjadi motor penggerak SPAB di satuan pendidikan masing-masing,” ujar Satfa Alfarizi.
Dua Bulan untuk Membuktikan Hasil Pelatihan
Setelah pelatihan berakhir, peserta tidak langsung berhenti pada sertifikat atau materi yang telah diterima. Mereka bersepakat akan melaksanakan rencana tindak lanjut (RTL) dalam kurun waktu dua bulan di sekolah masing-masing.
Dalam periode tersebut, peserta ditargetkan mulai menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan, dengan target minimal 50 persen implementasi.
Target itu diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun sistem kesiapsiagaan yang lebih terstruktur di sekolah. Dengan demikian, SPAB tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, melainkan berkembang menjadi bagian dari budaya keselamatan dan kesiapsiagaan warga sekolah.
Dalam konteks penguatan keberlanjutan program, para peserta juga diharapkan menjadi bagian dari jejaring kolaborasi bersama pemerintah melalui tindak lanjut BPBD Kota Metro serta mendorong terbentuknya Sekretariat Bersama (Sekber) SPAB Metro. Kehadiran Sekber ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas sektor dalam pengurangan risiko bencana di satuan pendidikan, sekaligus membuka peluang bagi para fasilitator untuk digerakkan sebagai tenaga pengajar dalam skema sekolah darurat ketika situasi bencana terjadi.
Kegiatan ditutup pada Minggu, 9 Agustus 2026, setelah rangkaian kegiatan olahraga, sarapan, penutupan, dan kepulangan peserta.
Pelaksanaan ToT Fasilitator SPAB MDMC Kota Metro mendapat dukungan dari Lazismu Kota Metro, KL Lazismu Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Metro, Universitas Muhammadiyah Metro, SMK Muhammadiyah 3 Metro, Roti Surya, Bank Syariah Metro Madani, Rangrang Outdoor Gear Bandar Lampung, PT Metro Solar Investama, CV Wulandari, serta Craft and Cloth.
Melalui pelatihan tersebut, MDMC Kota Metro mendorong lahirnya fasilitator-fasilitator sekolah yang mampu mengubah pengetahuan kebencanaan menjadi aksi nyata. Sebab, sekolah yang aman bukan hanya sekolah yang mengetahui risiko bencana, tetapi sekolah yang mampu mengenali risiko, mengurangi kerentanan, meningkatkan kapasitas, dan siap bertindak ketika bencana terjadi.










