Bangun Budaya Keselamatan, FIKES Universitas Muhammadiyah Bengkulu Gandeng Kantor Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS) Bengkulu Gelar Seminar K3 dan Simulasi Gempa

seminar & simulasi fikes UM Bengkulu dan Badan Pencarian dan Pertolongan Bengkulu

BENGKULU, 24 juli 2026– Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) menyelenggarakan Seminar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang memadukan materi Sistem Manajemen Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (SMK3L), ergonomi perkantoran, serta simulasi tanggap darurat gempa bumi. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan sivitas akademika dalam menghadapi potensi risiko di lingkungan kampus.

Seminar yang diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan tersebut menghadirkan materi komprehensif mengenai penerapan budaya keselamatan kerja, pentingnya ergonomi di lingkungan perkantoran, serta langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi berdasarkan prosedur resmi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS).

Selain itu, pembentukan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) di lingkungan kampus menjadi langkah penting dalam memperkuat koordinasi, pengawasan, dan penerapan keselamatan kerja. Keberadaan P2K3 juga merupakan bagian dari perwujudan kampus aman dari bencana, karena menjadi wadah resmi untuk mendorong pencegahan risiko, kesiapsiagaan, dan penanganan keadaan darurat secara terarah.

Sebagai keynote speaker, Dr. Emi Kosvianti, S.K.M., M.P.H. mengangkat tema “Urgensi Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (SMK3L)”. Menurutnya, penerapan SMK3L di lingkungan perguruan tinggi bukan hanya menjadi kewajiban institusi, tetapi juga investasi jangka panjang dalam menciptakan budaya kerja yang aman, sehat, dan berkelanjutan.

“Implementasi SMK3L harus menjadi budaya yang melekat dalam setiap aktivitas di lingkungan kampus. Keselamatan bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan, melainkan tanggung jawab bersama untuk melindungi seluruh sivitas akademika serta menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan berdaya saing,” ujar Dr. Emi Kosvianti.

Pada sesi pertama, Cindy Oktavia menyampaikan materi “Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Satuan Pendidikan”. Ia menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan dalam membangun budaya K3 melalui kepedulian, kedisiplinan, serta keteladanan dalam menerapkan prosedur keselamatan di lingkungan kampus.

“Budaya K3 tidak akan terwujud tanpa keterlibatan aktif mahasiswa. Kesadaran terhadap keselamatan harus dimulai dari diri sendiri, kemudian ditularkan kepada lingkungan sekitar sehingga menjadi budaya bersama,” jelas Cindy Oktavia.

Selanjutnya, Nada Anggun Puspita Dewi memaparkan hasil evaluasi bertajuk “Evaluasi Ergonomi pada Stasiun Kerja Perkantoran Universitas Muhammadiyah Bengkulu”. Hasil evaluasi terhadap 35 responden menunjukkan bahwa sebagian besar aspek ergonomi, mulai dari postur kerja, kursi, meja, lingkungan kerja, hingga penggunaan komputer telah memenuhi kategori baik. Namun, masih terdapat 74,3 persen responden yang mengalami keluhan fisik tingkat sedang sehingga diperlukan upaya perbaikan secara berkelanjutan.

“Lingkungan kerja yang ergonomis tidak hanya meningkatkan kenyamanan, tetapi juga menjaga kesehatan pekerja, mengurangi risiko gangguan muskuloskeletal, dan berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas kerja,” tutur Nada Anggun Puspita Dewi.

Sementara itu, Muhammad Khaliq Farizan, S.H., dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Bengkulu, membawakan materi “Tanggap Darurat Gempa Bumi dan Simulasi Penyelamatan Korban dari Gedung Tinggi”. Dalam sesi tersebut, peserta mendapatkan pelatihan mengenai prosedur penyelamatan diri menggunakan prinsip Drop, Cover, Hold On, teknik evakuasi yang benar, pendataan korban (head count), pertolongan awal, hingga mekanisme pelaporan keadaan darurat kepada BASARNAS.

“Keberhasilan penyelamatan tidak ditentukan oleh seberapa cepat seseorang berlari, tetapi oleh ketepatan tindakan. Lindungi diri terlebih dahulu, lakukan evakuasi secara tertib, kemudian bantu orang lain sesuai prosedur. Jangan sampai penolong justru menjadi korban berikutnya,” tegas Muhammad Khaliq Farizan.

Selain memperkuat pemahaman teoritis, seminar ini juga menghadirkan simulasi tanggap darurat sebagai bentuk pembelajaran praktis. Peserta diajak memahami alur penanganan bencana mulai dari mitigasi, penyelamatan diri, evakuasi, pertolongan pertama, hingga koordinasi dengan instansi terkait apabila terjadi keadaan darurat.

Kegiatan ini menjadi wujud sinergi antara Universitas Muhammadiyah Bengkulu dengan para praktisi dan pemangku kepentingan di bidang keselamatan dan penanggulangan bencana dalam membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan.

Melalui seminar ini, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Bengkulu menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kapasitas sivitas akademika dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja. Diharapkan, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta dapat membentuk lingkungan kampus yang lebih aman, sehat, tangguh, dan siap menghadapi berbagai keadaan darurat. Pembentukan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) di lingkungan kampus juga menjadi langkah strategis sebagai bagian dari perwujudan kampus aman dari bencana, dengan memperkuat koordinasi, pencegahan, dan kesiapsiagaan seluruh unsur sivitas akademika. Dengan demikian, budaya K3 dapat tumbuh sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas akademik maupun nonakademik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *