UMB Press Gelar Bedah Buku Growth Mindset dan Workshop Editing, Hadirkan Ketua APPTIMA

Bengkulu – UMB Press Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat budaya literasi dan publikasi ilmiah melalui penyelenggaraan Bedah Buku dan Workshop Editing serta Layout Buku yang berlangsung pada Rabu (10/6/2026) di Ruang Rapat Rektorat Kampus I UMB. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Growth Mindset: Genetika atau Lingkungan”, sebuah isu yang relevan dengan perkembangan pendidikan, psikologi, serta pembangunan sumber daya manusia di era modern.

Kegiatan ini menjadi forum akademik yang mempertemukan penulis, akademisi, pustakawan, dosen, mahasiswa, editor, dan pegiat literasi dalam satu ruang diskusi ilmiah. Selain membedah substansi buku, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai teknik penyuntingan dan tata letak buku yang menjadi bagian penting dalam proses penerbitan karya akademik yang berkualitas.

Direktur UMB Press, Mukhlizar, S.Ag., M.I.Kom., mengatakan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar tidak hanya dalam menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menyebarluaskannya kepada masyarakat melalui berbagai publikasi ilmiah.

Menurutnya, budaya menulis dan menerbitkan karya ilmiah harus terus didorong agar mampu melahirkan tradisi akademik yang kuat dan berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya UMB Press untuk memperkuat ekosistem literasi dan publikasi ilmiah di lingkungan Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Kami berharap forum ini mampu mendorong lahirnya karya-karya akademik yang berkualitas serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan pendidikan,” ujarnya.

Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Dr. Susiyanto, M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa budaya literasi merupakan fondasi utama dalam membangun perguruan tinggi yang unggul, inovatif, dan berdaya saing.

Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pusat lahirnya gagasan, penelitian, inovasi, dan karya akademik yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya intelektual yang produktif. Melalui kegiatan seperti ini, kita tidak hanya mengkaji sebuah buku, tetapi juga menumbuhkan semangat menulis, meneliti, dan berkarya sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan. Literasi yang kuat akan melahirkan generasi akademisi yang kritis, kreatif, dan berkemajuan,” kata Dr. Susiyanto.

Pada sesi utama, penulis buku Growth Mindset: Genetika atau Lingkungan memaparkan latar belakang penulisan, gagasan utama, serta berbagai temuan yang menjadi dasar penyusunan buku tersebut. Pemaparan tersebut mengajak peserta memahami bagaimana pola pikir manusia terbentuk melalui interaksi yang kompleks antara faktor genetika dan lingkungan sosial.

Melalui kajian yang disajikan, peserta diajak melihat bahwa keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan belajar, pengalaman hidup, pola asuh, pendidikan, serta budaya yang berkembang di sekitarnya. Konsep growth mindset yang dibahas dalam buku tersebut dinilai memiliki relevansi yang tinggi dalam dunia pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.

Pembahasan buku kemudian diperkaya melalui ulasan kritis dari Dr. Muhammad Arifin, M.Pd., Ketua Umum Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (APPTIMA). Sebagai reviewer, ia memberikan analisis akademik terhadap substansi buku, pendekatan metodologis yang digunakan, serta kontribusinya dalam memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.

Menurut Dr. Muhammad Arifin, tema growth mindset menjadi salah satu isu penting yang perlu terus dikaji karena memiliki dampak langsung terhadap proses pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.
“Buku ini menghadirkan perspektif yang menarik mengenai hubungan antara faktor genetika dan lingkungan dalam membentuk pola pikir seseorang. Kajian seperti ini sangat penting untuk memperkaya diskursus akademik sekaligus memberikan pemahaman yang lebih komprehensif bagi para pendidik, mahasiswa, maupun masyarakat luas,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi langkah UMB Press yang secara konsisten menghadirkan ruang-ruang akademik produktif melalui kegiatan bedah buku dan workshop kepenulisan.

“Perguruan tinggi harus menjadi pusat produksi dan diseminasi pengetahuan. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus diperluas agar semakin banyak dosen, mahasiswa, dan peneliti yang terdorong menghasilkan karya ilmiah berkualitas. APPTIMA mendukung penuh berbagai upaya peningkatan kapasitas penulis, editor, dan penerbit kampus sebagai bagian dari penguatan ekosistem publikasi ilmiah di Indonesia,” tambahnya.

Sementara itu, perspektif kepustakawanan disampaikan oleh Meri Susanti, S.I.Pust., M.M. Dalam pemaparannya, ia menyoroti relevansi buku dari sudut pandang pengelolaan informasi, pengembangan koleksi perpustakaan, serta pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung peningkatan budaya literasi.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi telah membuka akses yang lebih luas terhadap berbagai sumber pengetahuan, termasuk buku elektronik, repositori institusi, dan jurnal ilmiah digital. Karena itu, kemampuan literasi informasi menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki oleh sivitas akademika di era transformasi digital.

Selain menghadirkan pemaparan akademik, kegiatan ini juga menyediakan ruang diskusi interaktif yang memungkinkan peserta berdialog langsung dengan para narasumber. Forum tersebut menjadi sarana pertukaran gagasan, penyampaian pandangan kritis, serta penguatan jejaring akademik antara dosen, mahasiswa, penulis, dan pegiat literasi.

Melalui penyelenggaraan bedah buku dan workshop ini, UMB Press kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan literasi akademik yang tidak hanya berfokus pada penerbitan karya ilmiah, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kepenulisan, penyuntingan, dan publikasi.

Dengan menghadirkan penulis, akademisi, reviewer nasional, dan pustakawan dalam satu forum ilmiah, kegiatan ini diharapkan mampu memperluas wawasan peserta, memperkuat tradisi intelektual di lingkungan kampus, serta mendorong lahirnya lebih banyak karya ilmiah berkualitas yang memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan, penelitian, dan pengembangan literasi di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *