Jejak Diplomasi Kemanusiaan Muhammadiyah Dibedah lewat Peluncuran Buku Karya Sudibyo Markus

BENGKULU – Dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB), Andi Azhar, Ph.D, dipercaya menjadi pemateri sekaligus pembedah dalam kegiatan Book Launching & Talkshow buku Sosok Diplomat Partikelir Muhammadiyah. Agenda tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Jejak Diplomat Kemanusiaan Edisi 2 yang akan digelar pada Rabu, 17 Juni 2026, di Aula Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta.

Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi intelektual mengenai peran diplomasi kemanusiaan yang dijalankan oleh aktor-aktor non-negara dalam merespons berbagai persoalan global. Buku karya tokoh Muhammadiyah, Dr. (HC) dr. Sudibyo Markus, MBA, tersebut merekam pengalaman, gagasan, dan praktik diplomasi kemanusiaan yang dibangun melalui jejaring sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan.

Menurut Andi Azhar, buku tersebut menawarkan perspektif yang penting mengenai kemampuan organisasi masyarakat sipil dalam menghadirkan solusi di tengah keterbatasan mekanisme diplomasi formal.

“Buku Sosok Diplomat Partikelir Muhammadiyah merupakan dokumentasi penting tentang bagaimana aktor non-negara berbasis nilai dan keimanan dapat bergerak cepat serta efektif menjawab tantangan kemanusiaan, terutama ketika diplomasi formal menghadapi berbagai keterbatasan,” ujarnya.

Ia menilai kekuatan utama buku tersebut terletak pada gagasan bahwa jaringan kepercayaan yang dibangun atas dasar nilai bersama dapat menjadi instrumen yang responsif dalam menyelesaikan persoalan kemanusiaan lintas batas.

“Ketika prosedur diplomatik berjalan lambat dan kompleks, jaringan kepercayaan justru mampu menjadi infrastruktur alternatif yang lebih adaptif dan efektif dalam merespons situasi darurat,” katanya.

Andi Azhar mengaitkan gagasan tersebut dengan pengalamannya saat memimpin Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan pada masa awal pandemi Covid-19. Saat itu, Indonesia tidak memiliki perwakilan diplomatik di Taiwan karena kebijakan One China. Namun melalui jejaring Muhammadiyah dan berbagai mitra kemanusiaan, bantuan berupa puluhan ribu masker berhasil disalurkan kepada warga negara Indonesia dalam waktu relatif singkat.

“Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa diplomasi kemanusiaan memiliki ruang kerja yang sangat penting. Dalam situasi tertentu, jejaring sosial yang dibangun atas dasar kepercayaan dapat bergerak lebih cepat untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Andi Azhar menegaskan bahwa buku karya Sudibyo Markus tidak hanya mengisahkan perjalanan seorang diplomat partikelir, tetapi juga menyajikan pelajaran berharga bagi generasi muda Muhammadiyah dan organisasi masyarakat sipil lainnya.

“Buku ini mengajarkan bahwa diplomasi kemanusiaan merupakan keahlian yang perlu dirawat, dikembangkan, dan diwariskan. Kemampuan membangun dialog, kepercayaan, serta kolaborasi lintas iman dan budaya merupakan modal penting Indonesia untuk berkontribusi dalam percaturan global,” tuturnya.

Melalui peluncuran dan diskusi buku tersebut, diharapkan tumbuh pemahaman yang lebih luas mengenai kontribusi Muhammadiyah dalam membangun perdamaian, memperkuat solidaritas kemanusiaan, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan global melalui pendekatan yang inklusif dan berkemajuan.

Kepercayaan yang diberikan kepada Andi Azhar untuk menjadi bagian dari forum nasional ini sekaligus mencerminkan kontribusi akademisi Universitas Muhammadiyah Bengkulu dalam memperkaya diskursus keilmuan dan kemanusiaan, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam membangun jejaring pemikiran dan aksi kemanusiaan di tingkat nasional maupun internasional.

UM Bengkulu Mencerahkan untuk Kemajuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *